Solusi Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas

Salah satu permasalahan transportasi yang paling sering dihadapi adalah permasalahan kemacetan terutama bagi kota-kota besar.

Kerugian atau Cost dari waktu yang terbuang akibat kemacetan merupakan hal yang perlu dikaji dalam kiat membangun pertumbuhan ekonomi yang baik. Polusi yang ditimbulkan dari gas buang kendaraan juga hal yang tidak dapat diabaikan terkait permasalahan lingkungan.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah kemacetan lalu lintas. Diantaranya adalah pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Namun, untuk realisasinya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan dan juga membutuhkan waktu.

Berikut beberapa cara yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah kemacetan lalu lintas:


Penyediaan dan Pemeliharaan Sarana Transportasi Umum

Bus Sarana Transportasi Mengurangi Kemacetan
Wikipedia

Penyediaan sarana transportasi yang layak harus menjadi sasaran utama agar para penggunan jalan raya beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Sarana transportasi tersebut dapat berupa Bus dan Kereta yang memiliki jalurnya tersendiri sehingga penumpang dapat terhindar dari kemacetan. Pelayanan yang nyaman dan aman juga perlu disediakan.


Penggunaan Jalur Satu Arah

Dengan menjadikan jalan satu arah, maka konflik yang terjadi antar kendaraan dapat dikurangi. Sehingga efek bottleneck dari mobil yang berbelok ke arah kanan dengan memotong jalur kendaraan dari arah berlawanan dapat dihindari.

Kecepatan dan arus lalu lintas juga bertambah, serta lebih mudah dalam melakukan parkir kendaraan. Namun, jarak tempuh akan menjadi lebih panjang bagi beberapa kendaraan. Apabila lokasi tujuan terlewat, pengendara perlu mengitari lagi kawasan tersebut.


Pembatasan Kepemilikan Kendaraan Pribadi

Hal ini dikarenakan mudahnya orang memperoleh kendaraan pribadi. Jika pembatasan pemilikan kendaraan pribadi ini dapat dilakukan, maka ini akan dapat menekan angka kemacetan transportasi lalu lintas di jalan raya.


Pembuatan Skywalk

Teras Cihampelas Bandung untuk Mengatasi Kemacetan
antasenadrone

Pembuatan Skywalk seperti di Cihampelas, Bandung, dapat mengurangi kemacetan yang terjadi.

Pembuatan Skywalk ini diinisiasi dikarenakan banyaknya pejalan kaki yang berlalu-lalang dan pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang Jalan Cihampelas sehingga mengakibatkan lalu lintas menjadi macet.

Dengan adanya Skywalk ini, maka pejalan kaki dan pedagang kaki lima dipindahkan ke Skywalk, sehingga konflik antara pejalan kaki dengan pengendara dapat dikurangi. Hal ini cocok untuk diterapkan di daerah pertokoan.


Penetapan Sistem Aturan Ganjil Genap

Penerapan sistem ini dapat mengurangi volume lalu lintas. Sistem ganjil genap ini adalah penetapan kendaraan yang boleh melewati jalan-jalan tertentu berdasarkan digit paling belakang di pelat nomornya, apakah ganjil atau genap.

Misalnya, jika nomor pelat adalah B 1234, maka akan tergolong genap karena digit terbelakang adalah angka 4. Untuk angka 0 sendiri tergolong angka genap.

Ganjil-genap ini ditentukan berdasarkan tanggal hari tersebut, apakah tanggal ganjil atau genap.


Penetapan Electronic Road Pricing (ERP)

Electronic Road Pricing ERP atau Sistem Jalan Berbayar
Wikipedia

Electronic Road Pricing atau Sistem Jalan Berbayar ini sudah diterapkan di negara Singapura.

Kendaraan yang akan melewati jalan yang memiliki ERP ini harus memiliki device IU (In-Vehicle Unit) serta CashCard berisikan kuota, dipasang di kaca depan kendaraan, dan akan terkena charge secara otomatis ketika melintasi jalan tersebut.

Sistem ERP ini menggunakan kamera untuk memindai kendaraan yang melewati jalan tersebut. Tarif yang ditentukan fluktuatif, dapat berubah-ubah sesuai kondisi lalu lintasnya.

Keunggulan sistem ini adalah kendaraan yang melintas tidak perlu memperlambat kecepatannya maupun berhenti saat memasuki area ERP sehingga dapat mempertahankan arus lalu lintas yang ada.

Fasilitas Pejalan Kaki

Pejalan kaki merupakan aspek yang penting di lingkungan jalan dan keselamatannya harus diperhatikan dengan baik.

Konflik antara pengendara dengan pejalan kaki sering terjadi terutama di daerah-daerah pertokoan yang intensitas pejalan kakinya ramai.

Berdasarkan laporan WHO tahun 2015, kecelakaan pejalan kaki di Indonesia menduduki peringkat ketiga kecelakaan lalu lintas jalan.

Salah satu yang menjadi kendala dalam masalah kecelakaan lalu lintas adalah kurangnya fasilitas pejalan kaki, buruknya jarak pandang yang didapat oleh pejalan kaki, dan faktor-faktor resiko lainnya.

Oleh karena itu, diperlukan fasilitas-fasilitas bagi pejalan kaki agar meningkatkan tingkat keselamatan serta memperlancar lalu lintas.


Trotoar

Trotoar berfungsi sebagai jalur pejalan kaki, ditempatkan di sisi luar bahu jalan dan memiliki elevasi yang lebih tinggi dari permukaan jalan.


Bollard

Tiang Bollard Patok Pembatas Jalan
aseasyasridingabike.wordpress.com

Tiang Bollard atau bisa disebut Patok Pembatas Jalan merupakan tiang-tiang yang berada di pinggir trotoar, berfungsi sebagai pembatas antara trotoar dengan perkerasan jalan. Selain itu juga dapat berfungsi untuk menghalangi kendaraan masuk ke area-area tertentu.


Zebra Cross

Zebra cross merupakan fasilitas penyeberangan bagi pejalan kaki sebidang dengan jalan, berupa marka jalan dengan garis-garis hitam putih melintang pada sumbu jalan.


Jembatan Penyeberangan

Jembatan Penyeberangan bagi Pejalan Kaki
The Peninsula Qatar

Jembatan penyeberangan merupakan fasilitas penyeberangan bagi pejalan kaki yang terletak di atas permukaan perkerasan jalan dan digunakan apabila penyeberangan sebidang tidak dapat dilakukan dikarenakan lalu lintas yang ramai dan kecepatan kendaraan yang tinggi.

Terowongan Penyeberangan

Terowongan Penyeberangan bagi Pejalan Kaki
iStock

Alternatif penyeberangan apabila tidak memungkinkan menggunakan Jembatan Penyeberangan. Merupakan tempat penyeberangan pejalan kaki di bagian bawah permukaan jalan.


Skywalk

Skywalk Cihampelas Bandung
antasenadrone

Di Bandung, tepatnya di daerah Cihampelas terdapat Skywalk Teras Cihampelas yang dibuat untuk para pejalan kaki serta pedagang kaki lima yang berjualan di sekitarnya. Dengan adanya Skywalk ini, kemacetan di daerah Cihampelas dikarenakan konflik antara pejalan kaki dengan pengendara dapat dikurangi. Selain itu, Skywalk ini juga memberikan nilai estetika pada Kota Bandung.

Rambu dan Marka

Rambu dan Marka harus terlihat jelas walau pada malam hari dan ditempatkan di bagian tepi trotoar mengarah ke arah jalan. Tujuannya adalah untuk memberitahu pengendara akan adanya tempat penyeberangan.


Lampu Penyeberangan

Lampu Penyeberangan bagi Pejalan Kaki
fvsch.com


Pelican Crossing

Pelican Crossing atau seringkali disebut Pedestrian Light Controlled Crossing merupakan fasilitas penyeberangan bagi pejalan kaki.

Pejalan kaki yang ingin menyeberang dapat memencet tombol, kemudian tunggu beberapa saat dan lampu penyeberangan akan menjadi hijau, sedangkan untuk pengendara akan menjadi merah. Diterapkan di daerah yang padat pejalan kaki dan/atau lalu lintasnya.


Puffin Crossing

Puffin Crossing atau Pedestrian User Friendly Intelligent Crossing merupakan perkembangan dari Pelican Crossing.

Puffin Crossing memiliki alat pendeteksi apabila penyeberang jalan berjalan lambat, maka durasi penyeberangan dapat diperpanjang.


Toucan Crossing 

Toucan Crossing atau Two Can Crossing juga merupakan perkembangan dari Pelican Crossing, namun disini pengendara sepeda juga dapat ikut menyeberang.

Cara Membatasi Kecepatan Kendaraan di Ruas Jalan

Membatasi kecepatan kendaraan di suatu ruas jalan dimaksudkan untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas di suatu daerah tertentu.

Pembatasan biasanya diimplementasikan di sekitar sekolah, di jalan tol, jalan yang ramai pejalan kaki, pertokoan, ataupun di kompleks perumahan.


Cara-cara Membatasi Kecepatan Kendaraan
news.gov.tt

Terdapat beberapa macam metode untuk pembatasan kecepatan kendaraan ini, antara lain:


Speed Bumps/Polisi Tidur

Kita semua sudah mengenal polisi tidur. Pembatas kecepatan ini merupakan yang paling umum dipakai. Dibuat dengan meninggikan suatu bagian jalan dan menimbulkan kesan tidak nyaman pada pengguna jalan yang melintasinya, bertujuan agar pengguna jalan mengurangi kecepatannya.


Road Hump

Pembatasan Kecepatan Road Hump
lgam.wikidot.com

Pembatas kecepatan ini mirip dengan Polisi Tidur, namun memiliki kelandaian yang lebih rendah. Tujuannya adalah agar pengendara tetap terasa nyaman saat melewati road hump ini.  


Rambu Batas Kecepatan

Dengan memasang rambu batas kecepatan, pengendara diharapkan dapat mengurangi kecepatannya berdasarkan yang ditentukan oleh rambu.

Bar Marking

Pembatasan Kecepatan Bar Marking
thenational.ae

Bar Marking ini menggunakan efek psikologis kepada pengendara dengan cara mengatur panjang serta spasi dari tiap Bar Marking untuk setiap jarak tertentu, biasanya diterapkan di jalan arteri atau jalan tol.

Pengendara akan merasa bahwa kecepatannya konstan, namun kenyataannya kecepatannya diturunkan secara perlahan-lahan.

Rumbe Area/Rumble Strips

Pembatasan Kecepatan Rumble Area
CBC

Merubah tekstur permukaan jalan menjadi tidak rata sedemikian sehingga menyebabkan  gangguan  yang  tidak  nyaman sehingga  pengendara  mengurangi  kecepatannya.
  
Selain itu, Rumble Area/Rumble Strips ini menyebabkan kebisingan suara yang cukup signifikan. Metode ini seringkali dijumpai di jalan tol.

Penyempitan Lebar Jalan

Penyempitan  jalan  dilakukan dengan menempatkan pulau lalu lintas ataupun tanaman bunga di tepi jalan, sehingga lebar jalan menyempit.

Adanya  penyempitan  ini  diharapkan pengendara akan mengurangi kecepatan pada saat melewatinya. Metoda  ini sangat  cocok  bagi  daerah  pemukiman dan daerah  pertokoan yang terdapat banyak pejalan kaki.

Optical Illusion

Pembatasan Kecepatan Optical 3D Illusion
Pinterest

Cara pembatasan kecepatan yang baru-baru ini diterapkan adalah dengan menggunakan 3D Art Style yang terasa nyata dari mata pengendara.

Sehingga pengendara akan mengurangi kecepatannya untuk mengantisipasi benturan yang sebenarnya tidak akan terjadi.

Pembatasan kecepatan ini banyak diterapkan di daerah kompleks perumahan terutama untuk mengurangi kebisingan apabila digunakan polisi tidur.

Cara Mengurangi Konflik pada Persimpangan

Persimpangan jalan adalah suatu daerah umum dimana dua atau lebih ruas jalan saling bertemu/berpotongan dan terdapat lalu lintas yang bergerak didalamnya.

Persimpangan merupakan hal yang esensial untuk ditelaah, sebab sebagian besar dari efisiensi, kapasitas lalu lintas, kecepatan, biaya operasi, waktu perjalanan, keamanan dan kenyamanan akan tergantung pada perencanaan persimpangan tersebut.

Pada persimpangan, seringkali arus lalu lintas mengalami konflik.

Konflik itu sendiri merupakan situasi dimana dua atau lebih pengguna jalan mendekati satu sama lain dalam ruang dan waktu yang sama sedemikian rupa sehingga tabrakan dapat terjadi apabila pergerakan mereka tetap tidak berubah. - Hyden & Amundsen

Oleh karena itu, untuk mengendalikan konflik ini ditetapkan aturan lalu lintas untuk menetapkan siapa yang mempunyai hak terlebih dahulu untuk menggunakan pesimpangan.

Di persimpangan, konflik yang terjadi dikelompokkan atas:

  1. Berpotongan atau disebut juga crossing, dimana dua arus berpotongan langsung.
  2. Bergabung atau disebut juga merging, dimana dua arus bergabung.
  3. Berpisah atau disebut juga sebagai diverging, dimana dua arus berpisah
  4. Bersilangan atau disebut juga weaving, dimana dua arus saling bersilangan, terjadi pada bundaran lalu lintas.

Beberapa solusi untuk mengurangi konflik lalu lintas pada persimpangan (Tamin, 2008), yaitu:


Time Sharing

Time sharing atau pembagian waktu adalah pembagian giliran kepada pengguna jalan dari masing-masing ruas jalan untuk memasuki persimpangan secara bergantian. Cara ini biasa dikenal dengan penerapan pemasangan lampu lalu lintas.


Time Sharing dengan Lampu Lalu Lintas

Menurut MKJI (1997), pemasangan lampu lalu lintas adalah untuk:

  1. Menghindari kemacetan pada simpang, sehingga terjamin bahwa suatu kapasitas tertentu dapat dipertahankan, bahkan selama kondisi lalu lintas jam puncak
  2. Memberi kesempatan kepada kendaraan dan/atau pejalan kaki dari jalan simpang untuk memotong jalan utama
  3. Mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas akibat tabrakan antara kendaraan-kendaraan dari arah yang bertentangan


Space Sharing

Prinsip Space Sharing adalah dengan mengubah crossing conflict menjadi jalinan atau weaving (kombinasi diverging dan merging), dilakukan dengan kanalisasi maupun pemasangan bundaran.

Menurut MKJI (1997), penempatan bundaran paling efektif jika digunakan untuk persimpangan antara jalan dengan ukuran dan tingkat arus yang sama. Karena itu, bundaran sangat sesuai untuk persimpangan antara jalan 2 lajur atau 4 lajur.


Space Sharing sebelum Kanalisasi
Gambar di atas merupakan suatu persimpangan jalan dengan bukaan pada mediannya dan arah arus kendaraan digambarkan dengan anak panah.

Pada persimpangan tersebut terdapat 5 konflik yang terjadi, ditandai dengan titik hitam seperti yang diperlihatkan pada gambar.  Jenis konflik tersebut antara lain adalah merging, diverging dan crossing.

Untuk mengurangi konflik ini, maka dilakukan cara dengan menutup bukaan pada median di persimpangan sehingga menjadi seperti gambar berikut.
Space Sharing dengan Kanalisasi
Setelah menutup median, maka konflik berkurang dari 5 menjadi 2 seperti yang dapat dilihat pada gambar.

Lalu lintas yang ingin belok ke kanan dari arah bawah, diarahkan ke arah kiri untuk nantinya melakukan U-turn.


Grade Separation

Grade Separation adalah mengubah persimpangan sebidang menjadi persimpangan tak sebidang. Cara ini dilakukan dengan menempatkan arus lalu lintas pada elevasi yang berbeda pada titik konflik.

Contohnya adalah seperti pembuatan flyover, underpass, overpass, dan interchange.


Grade Separation dengan Flyover

Grade Separation dilakukan apabila arus lalu lintas yang terjadi sangat padat sehingga tidak memungkinkan untuk persimpangan sebidang.

Analisis terhadap cost yang diperlukan dengan benefit yang didapat juga perlu diperhitungkan. Benefit disini dapat berupa pengurangan kerugian dari waktu yang terbuang karena kemacetan apabila diterapkan persimpangan sebidang.

Bentuk-bentuk pengendalian persimpangan tergantung pada besarnya arus lalu lintas, semakin besar arus semakin besar konflik yang terjadi semakin kompleks pengendaliannya seperti di jalan bebas hambatan yang memerlukan penanganan khusus.

Pengaturan Persimpangan tak Bersinyal (Unsignalized Intersection)

Persimpangan adalah lokasi dimana dua atau lebih ruas jalan bertemu pada satu titik.

Seringkali, pada persimpangan terjadi kecelakaan baik ringan maupun fatal. Hal ini disebabkan karena banyaknya konflik yang terjadi antar kendaraan yang melintas.

Untuk mengurangi dan mengendalikan konflik-konflik ini, maka diberlakukan pengaturan persimpangan. Selain untuk mengurangi tingkat kecelakaan, pengaturan persimpangan juga bertujuan untuk memberikan efisiensi yang tinggi pada kinerja persimpangan.

Untuk persimpangan sebidang, terdapat dua jenis pengaturan persimpangan, yaitu Persimpangan Bersinyal dan Persimpangan tak Bersinyal.


Pengaturan Persimpangan tak Bersinyal
Getty Images

Persimpangan tak Bersinyal biasanya ditemukan di area yang kepadatan lalu lintasnya tidak tinggi. Terdapat beberapa metode untuk pengaturan persimpangan pada persimpangan tak bersinyal:


Pemberian Rambu Stop atau Give Way



Perbedaan Rambu Stop dan Give Way

Kedua rambu tersebut merupakan sama-sama rambu perintah yang biasanya dipasang pada jalan minor untuk kendaraan yang akan memasuki jalan utama. Namun terdapat beberapa perbedaan antara rambu Stop dan Give Way.


Perbedaan Rambu Stop dan Give Way

Rambu Give Way digunakan untuk jalan utama yang lalu lintasnya tidak berbahaya, yaitu kecepatan rata-rata yang tidak terlalu tinggi serta tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas.

Apabila pengguna jalan melihat rambu Give Way, maka pengguna jalan tersebut perlu mengurangi kecepatan kendaraannya (tidak perlu sampai berhenti) dan memberi jalan kepada kendaraan di jalan utama terlebih dahulu.

Sedangkan, Rambu Stop digunakan untuk jalan utama yang lalu lintasnya berpotensi berbahaya, yaitu memiliki kecepatan rata-rata yang tinggi serta cukup banyak kendaraan yang melintas.

Apabila pengguna jalan mendekati rambu stop, maka pengguna jalan tersebut harus benar-benar berhenti sebelum memasuki jalan utama.

Hal ini dimaksudkan agar pengguna jalan dapat melihat dengan jelas kondisi lalu lintas pada persimpangan tersebut terutama apabila ada objek yang menutupi jarak pandang. Apabila dilihat sudah cukup aman, maka pengendara dapat melintas.


Kanalisasi

Kanalisasi adalah pengurangan konflik lalu lintas dengan cara pemisahan lajur menggunakan pulau lalu lintas atau marka jalan.

Metode ini dapat mengurangi konflik lalu lintas dengan tetap mempertahankan kecepatan rata-rata serta dinilai cukup aman.


Kanalisasi atau Pulau pada Persimpangan tak Bersinyal


Bundaran (Roundabout)

Bundaran merupakan salah satu metode pengurangan konflik tanpa lampu sinyal dengan memberikan pulau berbentuk bundar di tengah-tengah persimpangan.

Perencanaan pada besarnya diameter bundaran perlu diperhatikan untuk memberikan efisiensi pada kinerja lalu lintas.

Kendaraan yang berada di dalam bundaran memiliki prioritas yang lebih tinggi, sehingga kendaraan yang akan memasuki bundaran harus memberi jalan terlebih dahulu.


Bundaran Persimpangan tak Bersinyal
ww.thesafedriver.ca

Jenis-Jenis Marka Jalan

Marka Jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong, serta lambang yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan membatasi daerah kepentingan lalu lintas.


Jenis-jenis Marka Jalan
pinterest.com


Marka jalan dibagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut.

Marka Membujur

Marka membujur adalah marka yang sejajar dengan sumbu jalan yang dapat berupa:

Garis Utuh

Marka Garis Utuh

Menandakan bahwa kendaraan dilarang melintasi garis tersebut. Apabila terdapat di tepi jalan, maka garis utuh ini berfungsi sebagai pertanda tepi jalur jalan.


Garis Putus-putus

Marka Garis Putus-putus

Berfungsi sebagai pemisah lajur maupun jalur.



Garis Ganda yang terdiri dari Garis Utuh dan Garis Putus-putus

Marka Garis Ganda yang terdiri dari Garis Utuh dan Garis Putus-putus

Menyatakan bahwa kendaraan yang berada pada sisi garis putus-putus boleh melintasi garis tersebut, sedangkan kendaraan yang berada di sisi garis utuh tidak boleh melintasi garis tersebut.


Garis Ganda yang terdiri dari dua Garis Utuh


Menandakan bahwa kendaraan dilarang melintasi garis tersebut, biasanya dipasang di jalan yang memilki 3 jalur atau lebih.

Berdasarkan KM Perhubungan No. 60 Tahun 1993:
Panjang masing-masing garis pada garis putus-putus harus sama, berdasarkan kecepatan rencana :
  • < 60 km per jam, panjang garis putus-putus 3,0 meter
  • > 60 km per jam, panjang garis putus-putus 5,0 meter
Panjang celah diantara garis putus-putus berdasarkan kecepatan rencana :
  • < 60 km per jam, panjang celah garis putus-putus 5,0 meter;
  • > 60 km per jam atau lebih, panjang celah garis putus-putus 8,0 meter.

Marka Melintang

Marka melintang adalah marka jalan yang tegak lurus dengan sumbu jalan, dapat berupa:

Marka Garis Berhenti dan Zebra CrossGaris Berhenti
Menyatakan batas berhenti bagi kendaraan, yang diisyaratkan oleh Lampu Lalu Lintas, Rambu Berhenti, Tempat penyeberangan, atau Zebra Cross

Zebra Cross
Merupakan tempat penyebrangan bagi pejalan kaki

Garis Putus-putus


Marka Melintang Garis Putus-putus

Merupakan batas untuk kendaraan memberi kesempatan kepada kendaraan di jalur utama pada persimpangan. 

Berdasarkan KM Perhubungan No. 60 Tahun 1993:
  • Lebar garis berhenti sekurang-kurangnya 0,20 meter dan paling lebar 0,30 meter.
  • Bila garis berhenti dilengkapi dengan perkataan “STOP” yang dituliskan di permukaan jalan, jarak antara puncak huruf pada tulisan “STOP” dan garis berhenti, 1 meter sampai dengan 2,5 meter.
  • Lebar garis ganda putus-putus sebagai garis berhenti untuk mendahulukan kendaraan lain sekurang-kurangnya 0,20 meter, panjang 0,60 meter, jarak antar garis putus yang membujur dan yang melintang 0,30 meter.

Marka Serong

Merupakan marka yang menyatakan bahwa area dengan marka tersebut bukan untuk dilintasi kendaraan. 

Marka Serong

Marka serong biasanya bertujuan sebagai pemberitahuan awal akan adanya pulau lalu lintas, median, ataupun percabangan jalan.

Marka Lambang

Marka lambang adalah marka untuk mempertegas maksud suatu rambu lalu lintas maupun untuk memberitahu pengguna jalan suatu larangan atau perintah. Marka lambang dapat berupa tulisan, panah, maupun gambar.

Marka Lambang Panah Tulisan Gambar

Marka lambang Segitiga diatas menyatakan untuk berhenti dan memberi jalan kepada kendaraan di jalur prioritas

Berdasarkan KM Perhubungan No. 60 Tahun 1993:
  • Marka lambang yang berupa panah harus memiliki panjang sekurang-kurangnya 5 meter untuk jalan dengan kecepatan rencana kurang dari 60 km perjam dan 7,50 meter untuk jalan dengan kecepatan rencana lebih dari 60 km perjam.
  • Marka lambang berupa tulisan harus memiliki tinggi huruf sekurang-kurangnya 1,6 meter, untuk kecepatan rencana kurang dari 60 km perjam dan sekurang-kurangnya 2,5 meter untuk jalan dengan kecepatan rencana 60 km perjam atau lebih.
  • Lebar huruf marka lambang berupa tulisan sesuai dengan jenis huruf dan sekurang-kurangnya 290 mm.

Marka Kotak Kuning (Yellow Box Junction)

Marka kotak kuning atau seringkali dikenal dengan yellow box junction merupakan Marka Jalan berbentuk segi empat berwarna kuning.

Marka Kotak Kuning Yellow Box Junction
www.rac.co.uk

Marka Kotak Kuning ini menandakan bahwa kendaraan dilarang berhenti didalam area kotak kuning tersebut.

Marka kotak kuning dapat ditempatkan pada persimpangan dan lokasi akses keluar masuk kendaraan tertentu.

Manajemen Lalu Lintas

Manajemen lalu lintas adalah bagian dari rekayasa transportasi (transport engineering) di mana teknik-teknik lalu lintas ataupun metoda pengaturan lainnya yang relevan digunakan untuk mengelola sistem prasarana transportasi dan prasarana lalu lintas lainnya (termasuk terminal dan stasiun antar moda) sedemikian sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan secara efektif, dengan memperhatikan aspek-aspek : keamanan, kenyamanan, ekonomi dan lingkungan. - Hills, 1978

Manajemen Lalu Lintas

Dari definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen lalu lintas merupakan pekerjaan mengelola lalu lintas agar menjadi optimal tanpa melakukan perubahan yang signifikan seperti penambahan ruas jalan baru.

Adapun tujuan dari manajemen lalu lintas ini adalah:
  • Pendistribusian pergerakan lalu lintas secara menyeluruh sehingga mengurangi penumpukan lalu lintas pada suatu ruas jalan
  • Meningkatkan tingkat aksesibilitas pada suatu daerah
  • Meningkatkan keamanan dalam berlalu lintas
  • Memperbaiki ataupun melindungi kondisi lingkungan di daerah tersebut
  • Efisiensi penggunaan sumber daya energi
  • Peningkatan kecepatan rata-rata pada saat jam sibuk

Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut, manajemen lalu lintas akan fokus terhadap pengelolaan simpang, lampu lalu lintas, rambu dan marka, serta pengendalian parkir. 

Perbedaan Perencanaan Transportasi Perkotaan dan Manajemen Lalu Lintas

Lingkup wilayah yang dikaji pada studi Manajemen Lalu Lintas umumnya lebih kecil dibandingkan lingkup wilayah pada studi  Perencanaan Transportasi Perkotaan.

Waktu yang diperlukan untuk mengkaji permasalahan biasanya kurang dari 5 tahun, sedangkan untuk Perencanaan Transportasi Perkotaan dapat 1-30 tahun.

Manajemen Lalu Lintas lebih berfokus kepada pengelolaan pergerakan (demand), sedangkan Perencanaan Transportasi Perkotaan lebih berfokus pada prasarana transportasi (supply).

4 Tahap Model Perencanaan Transportasi

Transportasi adalah perpindahan suatu objek dari satu tempat ke tempat yang lain dengan menggunakan sebuah medium yang dapat berupa kendaraan. Dalam kehidupan sehari-hari tentunya seringkali kita menggunakan transportasi untuk memudahkan pekerjaan kita.

Transportasi itu sendiri dapat terjadi karena adanya perbedaan sumber daya dari wilayah satu dan wilayah yang lainnya. Akibat perbedaan itulah maka terjadi kebutuhan dan ketersediaan. Dengan demikian terjadi interaksi antar kawasan yang digambarkan dengan adanya transportasi.

Sampai saat ini, baik di Indonesia maupun negara-negara maju masih terus mengembangkan sistem transportasi yang aman, cepat, murah, nyaman serta ramah lingkungan.

Namun, ekspektasi tersebut masih menjadi tantangan yang tidak mudah untuk diselesaikan terutama ketika menghadapi masalah seperti kemacetan, jalan yang rusak, polusi udara, suara dan getaran.


Trip Assignment
www.aimsun.com

Metoda analisa yang telah dikembangkan membutuhkan biaya yang mahal serta waktu proses yang lama. Hal ini tidak sesuai untuk negara berkembang, karena ada keterbatasan waktu dan biaya, yang tentunya selalu memerlukan pemecahan dan penanganan masalah transportasi yang bersifat quick-response.

Salah satu metode analisa yang paling sering digunakan adalah 4 tahap model transportasi.

Model ini disebut 4 tahap karena dalam pemodelan tersebut terdapat 4 sub-model yang pemodelannya dilakukan secara terpisah. Hasil yang didapat dari suatu sub-model dapat menjadi masukan untuk sub-model selanjutnya.

Berikut ini adalah penjelasan empat tahap model perencanaan transportasi:

Trip Generation (Bangkitan - Tarikan)

Trip generation adalah adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu zona atau tata guna.

Suatu zona atau tata guna yang dimaksud disini dapat berupa unit permukiman atau bagian wilayah kota (kawasan).

Jenis-jenis perjalanannya (Trip Purpose) biasanya berupa:
  • Home-based work trip (rumah-kantor)
  • Home-based other (rumah-tempat lain)
  • Non-home-based trip (tempat lain-tempat lain)

Perkiraan jumlah bangkitan/tarikan perjalanan dilakukan terhadap suatu zona, sesuai dengan variabel zonanya.

Besar kecilnya Trip Generation dipengaruhi oleh:
  • Intensitas tata guna lahan dan perkembangan pada daerah studi
  • Kondisi sosio-ekonomi dari pelaku perjalanan
  • Kapabilitas dan keadaan sistem transportasi yang ada di daerah studi

Trip Distribution (Distribusi Perjalanan)

Trip distribution adalah pemodelan untuk melihat bagaimana lalu lintas dapat ditimbulkan oleh suatu wilayah itu didistribusikan. Apakah arah pejalanan itu semua menuju satu tempat atau tersebar merata.

Faktor yang menentukan Trip Distribution adalah jumlah perjalanan itu sendiri yang berupa orang, kendaraan, maupun barang yang terjadi di antar zona.

Pada tahap pemodelan distribusi perjalanan ini, tujuan utamanya adalah membentuk Matriks Asal Tujuan untuk Nilai Bangkitan/Tarikan yang telah diperoleh dari Trip Generation.

Distribusi perjalanan juga dapat direpresentasikan dalam bentuk Desire Lines, yang merupakan garis-garis yang menghubungkan antar pusat zona pada suatu peta, dengan ketebalan garis menunjukkan besaran pergerakannya. Dari sini dapat terlihat secara visual lokasi mana saja yang ramai dikunjungi.

Moda Split (Jenis Angkutan)

Interaksi antara dua tata guna lahan dapat dilakukan dalam dua pilihan, pertama adalah dengan menggunakan telepon (atau pos) untuk menghindari terjadinya pergerakan, dan kedua, interaksi yang mengharuskan terjadinya pergerakan.

Pada pilihan kedua, keputusan harus ditetapkan dalam hal pemilihan moda yang berkaitan dengan jenis transportasi yang digunakan.

Moda split adalah pembagian perjalanan ke dalam moda angkutan baik pribadi maupun angkutan umum. Dengan kata lain moda split adalah pemisahan perjalanan berdasarkan jenis angkutan.

Secara garis besar moda angkutan terbagi menjadi 3 yakni :
  • Angkutan Darat (Mobil, Motor, Bus, Kereta Api) 
  • Angkutan Air (Kapal Laut, Boat)
  • Ankutan Udara (Pesawat Terbang, Helikopter)

Faktor yang menentukan Moda Split adalah jenis moda yang tersedia pada daerah studi serta pemilihan moda yang berdasarkan biaya, kemudahan, serta waktu tempuh.

Trip Assigment (Pembebanan Ruas Jalan)

Dalam kasus ini, pemilihan moda dan rute dilakukan bersama-sama. Untuk angkutan umum, rute ditentukan berdasarkan moda transportasi. Untuk kendaraan pribadi, diasumsikan bahwa orang akan memilih moda transportasinya dulu baru rutenya.

Seperti pemilihan moda, pemilihan rute juga tergantung pada alternatif terpendek, tercepat, dan termurah, dan juga diasumsikan bahwa pemakai jalan mempunyai informasi yang cukup (misalnya tentang kemacetan jalan) sehingga mereka dapat menentukan rute terbaik.

Juga untuk pengaturan volume lalu lintas sehingga lalu lintas tidak menumpuk pada satu ruas jalan. Volume lalu lintas pada suatu ruas jalan dapat dialihkan ke ruas jalan lain. Ini untuk menghindari untuk menghindari kemacetan lalulintas dan menghindari terjadinya kemacetan lalu lintas.

Matriks Asal Tujuan akan menjadi faktor inputan dalam pemodelan ini.

PERBEDAAN PENULISAN MAKALAH SKRIPSI DAN JURNAL

Uji Kekuatan Beton dengan Hammer Test

Kita tentu sering menemukan ada banyak bangunan dengan konstruksi dari beton bertulang. Bahkan beberapa bangunan sudah memiliki umur yang panjang alias bisa dibilang bangunan monumen atau bersejarah. 
Semakin tua umur bangunan, tentu semakin berkurang juga kekuatan dari struktur bangunan itu sendiri misalnya adalah bangunan dengan konstruksi beton bertulang. Menurut teori kita tahu bahwa beton mencapai umur maksimalnya saat berumur 28 hari, namun setelah itu sebenarnya beton masih mengalami peningkatan kekuatan, hanya saja kenaikannya tidak terlalu signifikan. Namun seraya umur beton mencapai lebih dari 50 tahun, maka kekuatan beton akan menurun, bukan lagi meningkat. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan bangunan - bangunan dari beton bertulang yang masih ada sampai sekarang ? apakah masih aman konstruksinya ? Nah, mari kita cari tau caranya menjawab pertanyaan ini. 

Salah satu alat yang bisa kita gunakan untuk mengetahui kekuatan tekan beton adalah HAMMER TEST. Hammer test yaitu suatu alat pemeriksaan mutu beton tanpa merusak beton. Dengan  menggunakan metode ini akan diperoleh cukup banyak data dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya yang murah. 
Hammer Test
Sumber : Google.com
Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban berupa tumbukan pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberikan indikasi kekerasan juga setelah kalibrasi, dapat memberikan pengujian ini adalah jenis Hammer. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. Karena kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini sangat cepat, sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton, misalnya keberadaan partikel batu pada bagian - bagian tertentu dekat permukaan. 
Oleh karena itu, diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran disekitar setiap lokasi pengukuran, yang hasilnya kemudia dirata - ratakan British Standards (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 - 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2. Secara umum alat ini bisa digunakan untuk memeriksa keseragaman kwalitas beton pada struktur dan untuk mendapatkan perkiraan kuat tekan beton. 
Hammer Test
Sumber : Google.com

Kelebihan metode Hammer Test : 
  1. Murah 
  2. Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat
  3. Mudah digunakan
  4. Tidak merusak objek
Kekurangan metode Hammer Test : 
  1. Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaban beton, sifat - sifat dan jenis agretgat kasar, derajat karbonisasi dan umur beton. oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan kondisi yang sama. 
  2. Sulit mengkalibrasi hasil pengujian
  3. Tingkat keandalannya rendah
  4. Hanya memberikan informasi mengenai karakteristik beton pada permukaan.

Pengumpulan data - data :
  1. Menyusun rencana jadwal pengujian, mempersiapkan peralatan yang diperlukan.
  2. Mencari data tentang letak detail konstruksi, tata ruang dan mutu bahan konstruksi selama pelaksanaan bangunan berlangsung.
  3. Menentukan titik test.
    • Titik test untuk kolom diambil sebanyak 5 (lima) titik, masing-masing titik test terdiri dari 8 (delapan) titik tembak
    • balok diambil sebanyak 3 (tiga) titik test masing-masing titik terdiri dari 5 (lima) titik tembak
    • pelat lantai diambil sebanyak 5 (lima) titik test masing-masing terdiri dari 5 (lima) titik tembak.
Pelaksanaan pengujian :

Hammer Test
Sumber : Google.com
  1. letakkan ujung plunger yang terdapat pada ujung alat hammer test pada titik yang akan ditembak dengan memegang hammer dengan arah tegak lurus atau miring bidang permukaan beton yang akan ditest.
  2. Plunger ditekan secara perlahan - lahan pada titik tembak dengan tetap menjaga kestabilan arah dari alat hammer. Pada saat ujung plunger akan lenyap masuk kesarangnya akan terjadi tembakan oleh plunger terhadap beton, dan tekan tombol yang terdapat dekat pangkal hammer.
  3. Lakukan pengetesan terhadap masing-masing titik tembak yang telah ditetapkan semula dengan cara yang sama.
  4. Tarik garis vertikal dari nilai pantul yang dibaca pada grafik 1 yaitu hubungan antara nilai pantul dengan kekuatan tekan beton yang terdapat pada alat hammer sehingga memotong kurva yang sesuai dengan sudut tembak hammer.
  5. Besar kekuatan tekan beton yang ditest dapat dibaca pada sumbu vertikal yaitu hasil perpotongan garis horizontal dengan sumbu vertikal.
    Hammer Test
    Sumber : Google.com