Analisa Biaya Personil Pengawasan Jalan

Tugas utamanya seorang Quality Engineer adalah harus menjamin bahwa mutu material, mutu hasil pelaksanaan oleh kontraktor memenuhi persyaratan/ketentuan dalam Dokumen Kontrak. Quality Engineer harus benar-benar paham mengenai semua standar prosedur pengujian laboratorium yang ditetapkan dalam Dokumen Kontrak dan mempunyai pengetahuan mengenai teknologi bahan serta kendali mutu.


Analisa Biaya Personil Pengawasan Jalan
Tahapan pekerjaan pengawasan teknis diharapkan memberikan layanan yang meliputi kegiatan pekerjaan berikut :
  1. Memahami dan melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum pemenuhan kewajiban dan tugas kontraktor.
  2. Pelaksanaan ketentuan hukum dari Dokumen Kontrak Fisik, terutama masalah hukum yang menyangkut tuntutan (claim), perpanjangan waktu pelaksanaan dan lain sebagainya.
  3. Evaluasi usulan perubahan desain dan penyiapan Contract Change Order dan  Addendum.
  4. Memberikan rekomendasi, Contract Change Order dan Addendum.
  5. Pemeriksaan dan Investigasi atas masalah khusus, misalnya : keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, serta membuat rekomendasi pemecahannya.
  6. Memberikan saran manajemen pelaksanaan pekerjaan (Construction Management).
  7. Memberikan Laporan Teknis yang timbul selama pelaksanaan pekerjaan.
  8. Pengumpulan data lapangan rinci untuk peninjauan desain (review design), perhitungan desain, gambar desain dan surat-menyurat.
  9. Pengumpulan data lapangan yang lengkap, serta pelaksanaan uji-uji yang diperlukan.
  10. Penghimpunan data pengendalian mutu pekerjaan.
  11. Pengecekan secara cermat semua pengukuran dan perhitungan volume pekerjaan sebagai dasar pembayaran.
  12. Monitoring dan pengecekan terus menerus pengendalian mutu dan volume pekerjaan, serta menandatangani Sertifikat Bulanan (Monthly Certificate/MC). 
  13. Melakukan pengecekan dan persetujuan atas gambar-gambar terlaksana (As-Built Drawing) dan menggambarkan secara rinci bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan.
  14. Melaporkan masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.
  15. Penyusunan Laporan Bulanan tentang kegitan-kegiatan pelaksanaan pekerjaan.
  16. Membantu pelaksanaan Serah Terima Pertama Pekerjaan (Provisional Hand Over/PHO) dan Serah Terima Pekerjaan (Final Hand Over/FHO) terutama dalam menyusun daftar kerusakan dan penyimpangan yang perlu diperbaiki.
Untuk melakukan penawaran baiaya pengawasan jalan, diperlukan suatu analisa untuk Dokumen Penawaran, berikut Analisa Perhitungan Biaya Personil Pengawasan Jalan:

Personil : Supervision Engineer/SE (S1 Teknik Sipil)
Pengalaman : Minimal 7 Tahun
NO KOMPONEN BLP KOEFISIEN NASIONAL KOEFISIEN DIAMBIL BILLING RATE (Rp.) HARGA SATUAN (Rp.)
a Gaji Dasar (GD) 1 x GD 1.00 6,410,500 6,410,500
b Beban Biaya Sosial (BBS) (0,3-0,4) x GD 0.30 6,410,500 1,923,150
c Beban Biaya Umum (BBU) (0,5-1,3) x GD 1.00 6,410,500 6,410,500
d Tunjangan Penugasan (0,1 x 0,3) x GD 0.20 6,410,500 1,282,100
e Keuntungan (0,1 x (GD + BBS + BBU) 0.10 1,474,415
f Jumlah Total Total 17,500,665
Dibulatkan 17,500,000
Personil : Senior Inspector/SI (S1 Teknik Sipil)
Pengalaman : Minimal 5 Tahun
NO KOMPONEN BLP KOEFISIEN NASIONAL KOEFISIEN DIAMBIL BILLING RATE (Rp.) HARGA SATUAN (Rp.)
a Gaji Dasar (GD) 1 x GD 1.00 6,065,000 6,065,000
b Beban Biaya Sosial (BBS) (0,3-0,4) x GD 0.30 6,065,000 1,819,500
c Beban Biaya Umum (BBU) (0,5-1,3) x GD 1.00 6,065,000 6,065,000
d Tunjangan Penugasan (0,1 x 0,3) x GD 0.20 6,065,000 1,213,000
e Keuntungan (0,1 x (GD + BBS + BBU) 0.10 1,394,950
f Jumlah Total Total 16,557,450
Dibulatkan 16,557,000
Personil : Inspector (STM/SMK/D3/S1 Teknik Sipil)
Pengalaman : Minimal 10/5/3 Tahun
NO. KOMPONEN BLP KOEFISIEN NASIONAL KOEFISIEN DIAMBIL BILLING RATE (Rp.) HARGA SATUAN (Rp.)
a Gaji Dasar (GD) 1 x GD 1.00 2,680,000 2,680,000
b Beban Biaya Sosial (BBS) (0,3-0,4) x GD 0.30 2,680,000 804,000
c Beban Biaya Umum (BBU) (0,5-1,3) x GD 1.00 2,680,000 2,680,000
d Tunjangan Penugasan (0,1 x 0,3) x GD 0.20 2,680,000 536,000
e Keuntungan (0,1 x (GD + BBS + BBU) 0.10 616,400
f Jumlah Total Total 7,316,400
Dibulatkan 7,316,000
Personil : Lab. Technician (STM/SMK/D3/S1 Teknik Sipil)
Pengalaman : Minimal 10/5/3 Tahun
NO. KOMPONEN BLP KOEFISIEN NASIONAL KOEFISIEN DIAMBIL BILLING RATE (Rp.) HARGA SATUAN (Rp.)
a Gaji Dasar (GD) 1 x GD 1.00 2,680,000 2,680,000
b Beban Biaya Sosial (BBS) (0,3-0,4) x GD 0.30 2,680,000 804,000
c Beban Biaya Umum (BBU) (0,5-1,3) x GD 1.00 2,680,000 2,680,000
d Tunjangan Penugasan (0,1 x 0,3) x GD 0.20 2,680,000 536,000
e Keuntungan (0,1 x (GD + BBS + BBU) 0.10 616,400
f Jumlah Total Total 7,316,400
Dibulatkan 7,316,000
Personil : Surveyor (STM/SMK/D3/S1 Teknik Sipil)
Pengalaman : Minimal 10/5/3 Tahun
NO. KOMPONEN BLP KOEFISIEN NASIONAL KOEFISIEN DIAMBIL BILLING RATE (Rp.) HARGA SATUAN (Rp.)
a Gaji Dasar (GD) 1 x GD 1.00 2,680,000 2,680,000
b Beban Biaya Sosial (BBS) (0,3-0,4) x GD 0.30 2,680,000 804,000
c Beban Biaya Umum (BBU) (0,5-1,3) x GD 1.00 2,680,000 2,680,000
d Tunjangan Penugasan (0,1 x 0,3) x GD 0.20 2,680,000 536,000
e Tunjangan Penugasan (0,1 x (GD + BBS + BBU) 0.10 616,400
f Jumlah Total Total 7,316,400
Dibulatkan 7,316,000
Personil : Sekretaris (D3)
Pengalaman : Minimal 4 Tahun
NO. KOMPONEN BLP KOEFISIEN NASIONAL KOEFISIEN DIAMBIL BILLING RATE (Rp.) HARGA SATUAN (Rp.)
a Gaji Dasar (GD) 1 x GD 1.00 1,282,300 1,282,300
b Beban Biaya Sosial (BBS) (0,3-0,4) x GD 0.30 1,282,300 384,690
c Beban Biaya Umum (BBU) (0,5-1,3) x GD 1.00 1,282,300 1,282,300
d Tunjangan Penugasan (0,1 x 0,3) x GD 0.20 1,282,300 256,460
e Tunjangan Penugasan (0,1 x (GD + BBS + BBU) 0.10 294,929
f Jumlah Total Total 3,500,679
Dibulatkan 3,500,000
Personil : Operator Komputer (D3)
Pengalaman : Minimal 4 Tahun
NO. KOMPONEN BLP KOEFISIEN NASIONAL KOEFISIEN DIAMBIL BILLING RATE (Rp.) HARGA SATUAN (Rp.)
a Gaji Dasar (GD) 1 x GD 1.00 1,282,300 1,282,300
b Beban Biaya Sosial (BBS) (0,3-0,4) x GD 0.30 1,282,300 384,690
c Beban Biaya Umum (BBU) (0,5-1,3) x GD 1.00 1,282,300 1,282,300
d Tunjangan Penugasan (0,1 x 0,3) x GD 0.20 1,282,300 256,460
e Tunjangan Penugasan (0,1 x (GD + BBS + BBU) 0.10 294,929
f Jumlah Total Total 3,500,679
Dibulatkan 3,500,000
Personil : Juru Gambar (D3/S1)
Pengalaman : Minimal 4 Tahun
NO. KOMPONEN BLP KOEFISIEN NASIONAL KOEFISIEN DIAMBIL BILLING RATE (Rp.) HARGA SATUAN (Rp.)
a Gaji Dasar (GD) 1 x GD 1.00 1,282,300 1,282,300
b Beban Biaya Sosial (BBS) (0,3-0,4) x GD 0.30 1,282,300 384,690
c Beban Biaya Umum (BBU) (0,5-1,3) x GD 1.00 1,282,300 1,282,300
d Tunjangan Penugasan (0,1 x 0,3) x GD 0.20 1,282,300 256,460
e Tunjangan Penugasan (0,1 x (GD + BBS + BBU) 0.10 294,929
f Jumlah Total Total 3,500,679
Dibulatkan 3,500,000

Jenis dan Ukuran Batu Split

Batu split adalah salah satu jenis batu matreal bangunan yang diperoleh dengan cara membelah atau memecah batu yang berukuran besar menjadi ukuran kecil-kecil. Batu Split juga sering disebut dengan nama batu belah, karena disesuaikan dengan proses mendapatkannya yaitu dengan cara membelah batu.


Jenis dan  Ukuran Batu SplitSecara umum fungsi utama batu split adalan sebagai bahan campuran utama untuk pembuatan beton cor. Selaian batu split, bahan pembuatan beton cor adalah pasir dan semen. Proses pembuatan beton cor ini adalah dengan mencampur batu split, pasir dan semen dengan menggunakan media air. Setelah tercampur maka adonan ini dicetak sesuai dengan peruntukannya. Namun demikian setelah melihat jenis ukuran batu split, ternyata fungsinya tidak hanya sebagai bahan campuran beton cor saja tetapi juga berfungsi untuk keperluan yang lain.

Untuk mendapatkan batu split, bongkahan batu yang diperoleh dari hasil penambangan akan dibelah dengan mensin penghancur (crusher machine). Bongkahan batu yang dihancurkan tersebut akan menghasilkan batu split berbagai macam ukuran. Batu yang sudah dihancurkan (crushed) tersebut kemudian akan dikelompokkan dan disortir berdasarkan ukurannya.

Berikut kami sampaikan jenis ukuran Batu split dan fungsinya. Jenis-jenis ukuran batu split yang umum diperjualbelikan di pasaran :

Batu Split Ukuran 0 - 5 mm (mili meter). Jenis ini sering disebut juga dengan istilah Abu Batu. Ukuran ini merupakan jenis ukuran yang paling lembut, ukuran partikelnya menyerupai pasir lembut. Batu split jenis ukuran ini banyak dibutuhkan untuk campuran dalam proses pengaspalan atau dapat digunakan sebagai pengganti pasir. Material batu split ukuran ini merupakan bahan utama untuk pembuatan gorong-gorong dan batako press.

Batu Split Ukuran 5 - 10 mm (mili meter) atau disebut juga dengan batu split ukuran 3/8 cm (centi meter). Material batu split jenis ini banyak digunakan untuk campuran dalam proses pengaspalan jalan, mulai dari jalan yang ringan sampai jalan kelas 1. Batu split jenis ukuran ini akan dicampur dengan aspal menjadi Aspal Mixed Plant atau secara umum disebut dengan aspal hot mixed.

Batu Split Ukuran 10 - 20 mm (mili meter). Material batu split jenis ini banyak digunakan untuk bahan  pengecoran segala macam konstruksi, mulai dari konstuksi ringan sampai konstruksi berat. Bangunan-bangunan yang menggunakan beton cor dari bahan batu split ukuran ini antara lain Jalan Tol, Gedung bertingkat, Landasan Pesawat Udara, Bantalan Kereta Api, Pelabuhan dan Dermaga, Tiang Pancang dan Jembatan dan sebagainya.

Batu Split Ukuran 20 - 30 mm (mili meter). Material batu split jenis ini banyak digunakan untuk bahan pengecoran lantai dan pengecoran atau pembetonan horizontal yang lain.

Batu Split Ukuran 30 - 50 mm (mili meter). Material batu split jenis ini biasanya digunakan untuk dasar badan jalan sebelum menggunakan material yang lain, penyangga bantalan kereta api, penutup atau pemberat pipa didasar laut, beton cor pemecah ombak dan lain-lain.

Batu Split Jenis Agregat A. Matreal batu split ini termasuk dalam jenis sirtu. Batu split jenis Agregat A ini merupakan campuran antara beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya terdiri dari abu batu, pasir, batu split ukuran 10-20 mm, batu split ukuran 20-30 mm dan batu split ukuran 30-50 mm. Pencampuran bahan ini tidak ada pedoman komposisi yang pasti atau baku dari masing-masing bahan. Komposisi disesuaikan dengan jenis penggunaannya. Batu split jenis Agregat A ini pada umumnya digunakan sebagai bahan pengecoran dinding, pembuatan dinding dan campuran bahan beton cor.

Batu Split Jenis Agregat B. Matreal batu split ini termasuk dalam jenis sirtu. Batu split jenis Agregat B ini merupakan campuran antara beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya terdiri dari tanah, abu batu, pasir, batu split ukuran 10-20 mm, batu split ukuran 20-30 mm dan batu split ukuran 30-50 mm. Bahan Tanah merupakan pembeda komposisi dengan batu split jenis Agregat A. 

Pencampuran bahan ini tidak ada pedoman komposisi yang pasti atau baku dari masing-masing bahan. Komposisi disesuaikan dengan jenis penggunaannya. Batu split jenis Agregat B ini pada umumnya digunakan untuk bahan timbunan awal pengerasan jalan dengan tujuan untuk meratakan dan mengikat lapisan batu split yang digelar pada lapisan di atasnya. 

Batu Split Jenis Agregat C. Campuran matreal batu split ini sering disebut batu asalan. Batu split jenis Agregat C ini merupakan campuran antara beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya terdiri dari tanah, abu batu, pasir, batu split apa saja dan dengan komposisi yang tidak beraturan. Batu split jenis Agregat C ini pada umumnya digunakan untuk bahan timbunan untuk pengurukan lahan, reklamasi dan lain-lain. 

Batu Gajah. Batu jenis inisering disebut dengan boulder elephant stone. Batu gajah merupakan salah satu jenis batu split yang mempunyai ikuran paling besar dibandingkan dengan jenis batu split yang lain. Batu gajah berfungsi untuk menimbun lahan atau lokasi yang berdekatan dengan pantai. Batu gajah ini biasanya digunakan untuk membuat bahan beton pemecah ombak, bahan reklamasi pantai, bahan untuk membuat dermaga kecil atau yang paling umum digunakan untuk bahan pondasi bangunan.

PROSEDUR PENGENDALIAN MUTU ASPHAL MIXING PLANT (AMP)

Sesuai dengan komponen yang tersedia, terdapat dua jenis AMP, yaitu (1) AMP jenis menerus dan (2) AMP dengan penakaran ( batch ). Tipikal keduanya diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Di Indonesia jenis yang banyak digunakan adalah jenis batch, karena pengendaliannya relatife lebih mudah

Komponen –komponen yang terdapat dalam AMP adalah sebagai berikut :
a. Cold bins
Bagian pertama dari AMP adalah cold nins, yaitu tempat penyimpanan agregat kasar, agregat halus dan pasir. Jenis atau tipe cold bins yang umum dikenal adalah : (1) Jenis ban berjalan yang menerus ( continuous belt type ), (2) Jenis yang getarkan ( Vibratory type ), dan (3) Jenis mengalir apro ( Apron ) flow type.
PROSEDUR PENGENDALIAN MUTU  ASPHAL MIXING PLANT

Kontinuitas aliran material dari cold bins ini sangat berpengaruh terhadap produksi campuran beraspal, untuk itu perlu pengendalian mutu yang ketat pada cold bins.
Check list pada cold bins meliputi :
  • Gradasi agregat. Perubahan gradasi dapat disebabkan karena perbedaan quari atau supplier. Jika terjadi perubahan gradasi agregat maka harus dilakukan pembuatan JMF kembali.
  • Kondisi dari tiap cold bins. Pencampuran agregat antar bin yang berdekatan dapat dicegah dengan membuat pemisah yang cukup dan pengisian tidak berlebih.
  • Kalibrasi bukaan cold bins.
  • Bukaan cold bins. Bukaan cold bins kadang-kadang tersumbat jika agregat halus basah, agregat terkontaminasi tanah lempung, atau penghalang lain yang tidak umum seperti batu dan kayu.
  • Kecepatan conveyor dan pengontrolan aliran agregat dan membuang material yang tidak perlu.

b. Dryer
Dari cold bins agregat dibawa ke dryer yang mempunyai fungsi : (1) menghilangkan kandungan air pada agregat, dan (2) memanaskan agregat sampai suhu yang disyaratkan. Check list yang diperlukan pada bagian ini meliputi :
  • Alat pengukur suhu.
  • Pemeriksaan suhu pemanas.
  • Pemeriksaan kadar air secara cepat ; ambil contoh secukupnya, kemudian lewatkan cermin yang kering, atau spatula diatas agregat tersebut. Amati jumlah kadar air yang mengembun pada permukaan cermin atau spatula.

c. Hot Screen
Setelah agregat dikeringkan dan dipanaskan, agregat diangkat dengan hot elevator untuk disaring dengan saringan bergetar dan dipisahkan dalam beberapa ukuran. Saringan pertama dengan ukuran terbesar berfungsi membuang agregat yang oversize.

Umumnya pada proses penyaringan ini terjadi pelimpahan agregat, misalnya yang semestinya masuk ke hot bin I tertapi terbawa ke hot bin II. Pelimpahan ini pada kondisi normal terjadi kurang dari 5 % dan cenderung konstan sehingga tidak terlalu mengganggu kualitas produksi. 

Akan tetapi prosentase tersebut dapat bertambah jika lubang saringan tertutup agregat, kecepatan produksi ditambah sehingga agregat yang disaring bertambah sementara efisiensi operasi penyaringan tetap, agregat halus basah sehingga pada saat pengeringan dan pemanasan agregat halus tersebut akan menggumpal dan masuk ke hot bin yang tidak semestinya. Kemungkinan lain adalah lubang-lubang pada saringan sudah ada yang rusak, sehingga beberapa agregat masuk ke hot bin yang tidak semestinya.

Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan gradasi dan kadar aspal secara serius. Check list yang perlu dilakukan pada bagian ini adalah : Pengecekan harian secara visual pada kebersihan dan kondisi saringan.

d. Hot Bins
Jika agregat halus masih menyisakan kadar air ( karena burner / dryer kurang baik ) setelah pemanasan, maka agregat yang sangat halus ( debu ) akan menempel dan menggumpal pada dinding hot bin dan akan jatuh setelah cukup berat. Hal tersbut dapat menyebabkan perubahan kecil pada gradasi agregat, yaitu penambahan material yang lolos saringan No. 200 ( 0,075 mm ).

e. Weigh Hopper
Pada bagian ini operator AMP sangat berperan. Jika keseimbangan waktu pencapaian berat hot bin sulit tercapai, maka operator harus membuang agregat tersebut dan melakukan pengecekan aliran material mulai dari cold bin. 

Akan tetapi jika ketidak seimbangan waktu tersebut dipaksakan terus berjalan, maka dapat dipastikan akan terjadi penyimpangan gradasi akibat proporsi masing-masing hot bin tidak sesuai. Check list yang dilakukan pada bagian ini adalah :
  • Kalibrasi timbangan, termasuk timbangan aspal.
  • Weigh box tergantung bebas
  • Kontrol harian terhadap kinerja operator AMP.

f. Pugmill
Dalam pugmill terjadi dua jenis pencampuran, yaitu pencampuran kering dan pencampuran basah ( setelah ditambah aspal ). Lamanya pencampuran kering diusahakan sesingkat mungkin untuk meminimalkan degradasi agregat, umumnya 1 atau 2 detik.

Pencampuran basah juga diusahakan seminimal mungkin untuk menghindari degradasi dan oksidasi. Jika agregat kasar ( tertahan saringan No. 4 ) telah terselimuti aspal maka pencampuran basah dihentikan, karena dapat dipastikan agregat halus juga telah terselimuti aspal ( ASTM D 2489, derajat penyelimutan aspal dilihat dari agregat yang tertahan No. 4 ).

Umumnya waktu pencampuran kurang dari 30 detik. Check list yang dilakukan pada bagian ini adalah :
  • Temperatur aspal ( pada tangki aspal )
  • Lamanya pencampuran
  • Tampak visual campuran yang keluar dari pugmill. Apakah campuran merata, terselimuti aspal, aspal menggumpal, atau pugmill bocor.

Survei Pengukuran Topografi

Survei Pengukuran Topografi akan dilakukan pada daerah di mana akan direncanakan bangunan bendung beserta sistem irigasinya.

Pengukuran Topografi ini akan meliputi pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :

1.Pengukuran Poligon
Pengukuran poligon utama dan poligon cabang untuk pembuatan kerangka dasar horizontal dari suatu daerah yang kan dipetakan.

Poligon adalah serangkaian titik-titik yang dihubungkan dengan garis lurus sehingga titik-titik tersebut membentuk sebuah rangkaian (jaringan) titik atau poligon. Pada pekerjaan pembuatan peta, rangkaian titik poligon digunakan sebagai kerangka peta, yaitu merupakan jaringan titik-titik yang telah tertentu letaknya di tanah yang sudah ditandai dengan patok, dimana semua benda buatan manusia seperti jembatan, jalan raya, gedung maupun benda-benda alam seperti danau, bukit, dan sungai akan diorientasikan. Kedudukan benda pada pekerjaan pemetaan biasanya dinyatakan dengan sistem koodinat kartesius tegak lurus (X,Y) di bidang datar (peta), dengan sumbu X menyatakan arah timur – barat dan sumbu Y menyatakan arah utara – selatan. Koordinat titik-titik poligon  harus cukup teliti mengingat ketelitian letak dan ukuran benda-benda yang akan dipetakan sangat tergantung pada ketelitian dari kerangka peta.
Survei Pengukuran Topografi
Survei Pengukuran Topografi


2.Pengukuran Waterpas
Pengukuran waterpas utama dan waterpas cabang untuk menentukan ketinggian titik-tik poligon utama dan cabang tersebut.

Pengukuran waterpass adalah pengukuran untuk menentukan ketinggian atau beda tinggi antara dua titik. Pengukuran waterpass ini sangat penting gunanya untuk mendapatkan data sebagai keperluan pemetaan, perencanaan ataupun untuk pekerjaan konstruksi.

Hasil-hasil dari pengukuran waterpass di antaranya digunakan untuk perencanaan jalan, jalan kereta api, saluran, penentuan letak bangunan gedung yang didasarkan atas elevasi tanah yang ada, perhitungan urugan dan galian tanah, penelitian terhadap saluran-saluran yang sudah ada, dan lain-lain.

Pada penggunaan alat ukur waterpass selalu harus disertai dengan rambu ukur (baak). Yang terpenting dari rambu ukur ini adalah pembagian skalanya harus betul-betul teliti untuk dapat menghasilkan pengukuran yang baik. Di samping itu cara memegangnya pun harus betul-betul tegak (vertikal). Agar letak rambu ukur berdiri dengan tegak, maka dapat digunakan nivo rambu . Jika nivo rambu ini tidak tersedia, dapat pula dengan cara menggoyangkan rambu ukur secara perlahan-lahan ke depan, kemudian ke belakang, kemudian pengamat mencatat hasil pembacaan rambu ukur yang minimum. Cara ini tidak cocok bila rambu ukur yang digunakan beralas berbentuk persegi.


3.Pengukuran titik-titik detail
Pengukuran titik-titik detail untuk keperluan penggambaran kontur dan pengukuran detail-detail penting dilapangan yang berguna untuk keperluaan perencanaan teknis.

4.Pengukuran azimuth matahari
Pengukuran azimuth matahari diperlukan sebagai azimuth awal hitungan poligon (kecuali jika ada titik ikat yang saling dapat terlihat) atau sebagai kontrol hasil pengukuran sudut antara kedua pengamatan.

5.Titik pengikatan/referensi  (titik awal hitungan)
Semua pengukuran yang telah dilakukan harus dikaitkan terhadap titik tetap yang telah ada(titik trianglasi, bechmark dll). Apabila didaerah pengukuran dan sekitarnya tidak terdapat titik tetap, maka oleh direksi akan ditunjuk suatu titik tetap tertentu dengan ditetapkan ketinggian koordinatnya.

6.Bench Mark / Control Point
  1. Harus merupakan titik-titik dalam kerangka dasar horisontal dan vertikal dipasang tiap 2,5 Km di dalam kerangka tersebut.
  2. Harus dipasang pada tempat-tempat yang aman-aman dan tidak mudah terganggu serta mempunyai deskripsi yang jelas sehingga memudahkan pencarian kembali oleh direksi.
  3. Harus sudah dipasang sebelum pengukuran polygon dan waterpass dilaksanakan.
  4. Dalam pemasangan BM, 1 (satu) titik sebelum dan sesudah BM harus dipasang BM tambahan yang akan dipakai sebagai orintasi azimuth awal pengecekan (cross checking) dan BM ini harus termasuk dalam kerengka dasar pengukuran
  5. Setipan lokasi atau rencana lokasi bendung harus dipasang dua buah BM yaitu dikiri dan kanan.
  6. Setiap bangunan atau rencana lokasi bangunan harus dipasang CP.

PRE CONSTRUCTION MEETING (PCM)

Rapat Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi (Pre Construction Meeting) merupakan rapat yang diselenggarakan oleh unsur-unsur yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan proyek pembangunan, yang di hadiri oleh :

  1. Pihak Satuan Kerja sebagai unsur pengendali, diwakili oleh KPA, PPK, PPHP
  2. Konsultan Perencanaan, diwakili oleh Tenaga Ahli Perencanaan
  3. Direksi Teknis sebagai pengawas teknis, diwakili oleh Konsultan Pengawasan, Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung yang ditunjuk
  4. Penyedia jasa sebagai pelaksana pekerjaan, diwakili oleh Pimpinan Perusahaan, Team Leader dan personil-personil yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan
  5. Pengelola Teknis yang ditunjuk

Tujuan PCM ini untuk menyamakan persepsi membahas Syarat-syarat Umum dan Khusus Dokumen Perikatan dan membuat kesepakatan hal-hal penting yang belum terdapat dalam Dokumen Kontrak maupun kemungkinan-kemungkinan kendala yang akan terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan oleh PPK sebelum PCM ialah :



  1. Draft Awal Kontrak sebagai acuan awal pelaksanaan
  2. Dokumen Pelelangan yang dapat menjelaskan kualifikasi dan pengalaman penyedia yang ditunjuk
  3. SPPBJ
  4. Jaminan Pelaksanaan bersifat unconditional
  5. Kontrak yang telah ditandatangani
  6. SPMK yang telah diterbitkan
  7. Rencana pencairan uang muka kerja
  8. Rencana Pelaksanaan dan Pengendalian Kontrak 
  9. Perkiraan Serah Terima Pekerjaan 
PCM diselenggarakan paling lambat 7 (tujuh) hari sejak diterbitkannya SPMK. Rapat PCM dituangkan dalam Berita Acara dan ditandatangani minimal oleh 3 (tiga) pihak; Wakil Satker (KPA/PPK), Penyedia Jasa Konsultan dan Kontraktor. 
PRE CONSTRUCTION MEETING (PCM)
PRE CONSTRUCTION MEETING (PCM)


Berita Acara Rapat Persiapan Pekerjaan tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Dokumen Kontrak yang berlaku.

Pembahasan dan kesepakatan dalam Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak antara lain :

  1. Stuktur organisasi Perusahaan/Proyek
  2. Penyamaan presepsi tentang pasal-pasal yang tertuang dalam Dokumen Kontrak
  3. Usulan-usulan perubahan mengenai isi dalam pasal-pasal Dokumen Kontrak
  4. Pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat mengenai rencana kerja.
  5. Pembahasan prosedur administrasi penyelenggaraan pekerjaan.
  6. Presentasi penyedia jasa dalam rencana penanganan pekerjaan melalui program untuk penyedia jasa (Rencana Mutu Kontrak).
  7. Presentasi Konsultan Pengawas tentang prosedur pengawasan pekerjaan berdasarkan uraian kegiatan pekerjaan penyedia jasa.
  8. Pembahasan kendala yang diperkirakan akan timbul, dan rencana penangananya.
  9. Penetapan masa berlaku ijin kerja (request) dan pemaparan metode kerja yang akan digunakan
  10. Masalah-masalah lapangan terkait metode pekerjaan 
  11. Rencana pemeliharaan dan pengaturan lalu lintas
  12. Pembahasan tentang tanggungjawab masing-masing unsur yang terkait dalam pelaksanaan pekerjaan,
  13. Pembahasan tentang pembayaran prestasi pekerjaan dan syarat-syarat yang diusulkan untuk pelaksanaan pembayaran
  14. Fasilitas pendukung yang akan diberikan oleh Pemberi Pekerjaan (Satker)
  15. Hal-hal yang belum jelas tertuang dalam kontrak

Apabila konsultan pengawas memiliki pandangan yang berbeda dengan hasil Rapat Persiapan Pekerjaan yang telah ditentukan, maka usulan/persamaan presepsi dapat dilakukan melalui rapat koordinasi yang dilaksanakan pada tahap selanjutnya.

Jika PPK dan Pihak Penyedia telah melaksanakan PCM ini, maka koordinasi dan tahapan pelaksanaan akan lebih terarah sesuai kesepakatan bersama demi mewujudkan pembangunan.

Jenis Laporan Proyek Konstruksi

Pada kesempatan ini saya akan berbagi pengalaman mengenai administrasi di proyek. Salah satu administrasi proyek yang paling penting adalah laporan proyek. Laporan proyek ini berfungsi untuk menyampaikan progres pekerjaan pada waktu tertentu. Lalu untuk siapa laporan proyek ini? Laporan ini ditujukan kepada pemberi tugas atau owner bangunan. Hal ini penting dilakukan karena digunakan sebagai syarat pengajuan termin juga. 
Jenis-jenis Laporan proyek

Jenis Laporan Proyek Konstruksi
Jenis Laporan Proyek Konstruksi
Manajemen proyek yang baik selalu menerapkan administrasi yang tertib sehingga semua kegiatan bisa terkendali dengan baik. Salah satu bentuk administrasi yang harus dibuat adalah laporan proyek. Antar kontraktor memiliki format laporan yang berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama yaitu mengendalikan semua kegiatan yang ada di proyek. Selain itu laporan proyek menjadi nilai jual tersendiri bagi kontraktor tersebut. Mengapa demikian? Banyak kontraktor yang meremehkan laporan proyek karena dianggap yang paling utama dalam proyek adalah fisik bangunan. Fisik bangunan memang yang utama namun harus diimbangi dengan proses administrasi yang baik. 

Jenis-jenis Laporan proyek

Laporan yang baik dan mudah dibaca oleh owner sangat penting karena akan membuktikan bahwa kontraktor tersebut mempunyai manajemen yang baik sehingga owner akan memberikan proyek lagi ke depannya. Itulah alasan mengapa laporan proyek mempunyai nilai jual tersendiri. 

Sebelum membahas jenis-jenis laporan yang ada di proyek sebaiknya dipahami terlebih dahulu apa sebenarnya fungsi dari laporan proyek. Berikut fungsi dari laporan proyek.

Melaporkan kepada owner kondisi dan kemajuan proyek dari waktu ke waktu.
Syarat administrasi untuk pengajuan termin kepada owner
Untuk internal bisa sebagai evaluasi progres yang telah dicapai tiap minggu atau tiap bulannya. 
Ada beberapa jenis laporan proyek yang umum digunakan antara lain Laporan harian, Laporan mingguan dan laporan bulanan. Berikut pembahasan satu per satu. 


1. Laporan Harian (Daily Report)
Laporan harian adalah laporan yang dibuat oleh pelaksana lapangan yang kemudian diolah oleh bagian teknik. Laporan harian ini sangat simpel karena biasanya hanya 1 lembar kertas saja. Laporan ini memuat beberapa informasi penting yang harus ditulis antara lain

Pekerjaan yang sedang dikerjakan termasuk lokasi pekerjaan.
Cuaca pada hari tersebut, Berapa jam hujan dan berapa jam cerah. 
Alat-alat yang digunakan termasuk jumlah alat (alat berat, alat pendukung, dan alat bantu)
Bahan-bahan material yang digunakan
Tanda tangan dari pelaksana dan konsultan pengawas.
Laporan diisi dengan tulisan tangan bukan diketik sehingga diharapkan pelaksana selalu tertib mengumpulkan laporan harian ke bagian teknik. 


2. Laporan Mingguan (Weekly Report)
Laporan mingguan berbeda dengan laporan harian karena isi yang dilaporkan tentu lebih lengkap. Laporan mingguan ini dibuat oleh teknik berdasarkan kondisi lapangan saat itu. Pada proyek dengan sistem kontraktor yang dilaporkan hanya progress saja kepada owner. Format laporan mingguan ini biasanya mengikuti format RAB untuk item-item pekerjaan. Isi dari laporan ini antara lain
Jenis-jenis Laporan proyek

Volume RAB dan bobot dimasing-masing pekerjaan
Volume yang sudah dikerjakan (Minggu lalu, minggu ini dan total)
Bobot dalam persen di masing-masing item pekerjaan (Minggu lalu, minggu ini dan total)
Nilai kumulatif progress pada minggu ini (dalam persen)


3. Laporan Bulanan (Monthly Report)
Jenis laporan proyek yang paling lengkap adalah laporan bulanan karena terdiri dari beberapa informasi penting yang dirangkum dalam satu buku. Laporan pada proyek kontraktor dengan proyek swakelola berbeda (Baca perbedaannya di isi laporan swakelola). Berikut isi dari laporan bulanan pada proyek dengan sistem kontraktor. 
Jenis-jenis Laporan proyek

Data proyek, meliputi nama proyek, nama paket, lokasi proyek, nomor kontrak, tanggal kontrak, tanggal SPMK, waktu pelaksanaan, Waktu serah terima pekerjaan, nama kontraktor, nama konsultan pengawas dan sebagainya. 
Lokasi proyek, berisi peta lokasi dan sket lokasi proyek
Laporan progres akhir bulan
Daftar staf di proyek tersebut
Daftar alat yang digunakan dan jumlah alat.
Foto dokumentasi pekerjaan 

Salah satu perbedaan antara proyek swakelola dengan kontraktor adalah laporan keuangan. Di kontraktor tidak ada laporan keuangan kepada owner karena merupakan privasi dari kontraktor. Berbeda dengan sistem swakelola yang dilaporkan selain progres adalah penggunaan dana. 


Jenis-jenis laporan yang umum digunakan pada proyek selalu berisi tentang progres lapangan sehingga owner bisa memantau pekerjaan yang dikerjakan oleh kontraktor. Hal yang terpenting dalam pembuatan laporan proyek adalah adanya sinkronisasi antara laporan harian, mingguan dan bulanan. Yang dimaksud adalah volume pekerjaan pada laporan harian harus sama dengan laporan mingguan dan bulanan. Di sini lah peran teknik sangat dibutuhkan untuk mengolah semua laporan proyek agar diterima dengan baik oleh owner.