METODE-METODE PERBAIKAN TANAH

Dalam praktek usaha perbaikan tanah sering dijumpai dari cara yang tradisional sampai cara yang modern. Kedua cara tersebut dapat diterima tetapi secara ekonomi pada prinsipnya adalah stabilitas tanah ini untuk mencari alternatif perbaikan tanah yang termurah dan berkonsidi cukup stabil. Hampir selalu usaha perbaikan tanah menjadi mahal karena menyangkut perbaikan tanah dalam volume yang sangat besar.  
METODE-METODE PERBAIKAN TANAH
METODE-METODE PERBAIKAN TANAH


Ada beberapa metode perbaikan tanah dibahas secara ilmiah yaitu :

1. Perbaikan tanah secara mekanis/energi :
Perbaikan secara mekanis adalah metode perbaikan yang sering digunakan dalam  usaha-usaha perbaikan tanah. Perbaikan secara  mekanis ini merupakan  perbaikan tanah dengan usaha pemaksan  terhadap perubahan masa tanah.

Secara alamiah tanpa disadari sering melakukan perbaikan tanah secara tradisonal dengan menumbuk/ memadatkan tanah secara rutin, misalnya terhadap beban lalulintas, kereta api, bangunan-bangunan, akan menimbulkan pemadatan tanah yang berujung pada perbaikan secara tidak langsung yang akhirnya tanah tersebut menjadi lebih kuat.
Beberapa metode perbaikan tanah secara mekanis :

Metode gilasan
Perbaikan tanah dengan gilasan diutamakan untuk tanah yang berkohesif. Model perbaikan tanah dengan gilasan diutamakan untuk tanah yang berkohesif. Cara kerjanya adalah butiran tanah ditekan secara langsung sehingga orientasinya berubah dan memaksa rongga udara dalam tanah berkurang. Peralatan lapangan yang dipakai untuk perbaikan dengan tipe gilasan yang banyak dalam praktek adalah:
  1. Steel whell roller.
  2. Roda ban pneumatik : alat berat gilasan/beroda angin dengan
  3. berat  kotor w   = 13 ton dst.
  4. Roda baja bergigi : alat berat gilas dengan berat kotor w = 8,10 dan 12 ton


Metode tumbukan
Perbaikan tanah dengan tumbukan dilakukan secara dinamis untuk lapisan permukaan dan lapisan dalam tanah.  Cara tumbukan ini juga disebut tipe kompaksi. Tumbukan dengan berat khusus dan getar yang bekerja simultan dinamakan tumbukan dinamis atau dynamic konsolidation. Cara ini diutamakan untuk tanah yang berbutir agar kasar, sangat tebal lapisannya dan basah, misalnya pada suatu deposit pasir atau tanah berpasir. Prinsip cara kerja pemadatan dengan tumbukan adalah pemadatan secara paksa dimana akan terjadi pemampatan seketika. 

Caranya adalah dengan menjatuhkan beban seberat 3 sampai 20 ton dari ketinggian 4 sampai 20 m. Sehingga energi yang besar memaksa terjadinya kepadatan langsung. Beban dapat dibuat dari baja atau beton bertulang yang dikatrol dengan mekanisme khusus sehingga mampubekerja efisien dan cepat.

Metode Getaran
Metoda tekanan, tumbukan dan getaran seringdisebut metoda energi yang mana pada prinsipnya akan mendorong udara dan air tanah serta rongga tanah akan mampat dan rongga tersebut akan mengecil atau bahkan hilang. Proses  pemampatan tanah juga merubah orientasi butir menjadi tersusun. Besar energi yang timbul akan tergantung pada besar beban dan besar usaha dari alat yang digunakan dan tentu disesuaikan dengan kebutuhan dalam praktek.

2. Perbaikan Tanah dengan Cara Perkuatan
Beberapa metode perbaikan dengan cara perkuatan sebagai berikut :

Pemasangan Vertical Drain
Tanah lempung lunak jenuh adalah tanah dengan rongga kapiler yang sangat kecil sehingga proses konsolidasi saat tanah dibebani memerlukan waktu cukup lama, sehingga untuk mengeluarkan air dari tanah secara cepat adalah dengan mebuat vertical drain pada radius tertentu sehingga air yang terkandung dalam tanah akan termobilisasi keluar melalui vertical drain yang telah terpasang.

Vertical drain ini dapat berupa stone column atau menggunakan material fabricated lainnya.
Pekerjaan vertical drain ini biasanya dikombinasikan dengan pekerjaan pre-load berupa timbunan tanah, dengan maksud memberikan beban pada tanah sehingga air yang terkandung dalam tanah  bisa termobilisasi dengan lebih cepat.

Menggunakan Cerucuk Bambu atau Corduroy
Prinsip kerjanya sebelum dilakukan penimbunan terlebih dahulu memasang bantalan baik yang terbuat dari bambu (cerucuk) atau dari kayu gelondongan (corduroy) sehingga saat tanah dihampar tidak bercampur dengan tanah asli dibawahnya dan tanah timbunan tersebut membentuk satu kesatuan yang mengapung diatas tanah aslinya semacam ponton yang mengapung diatas air.

Biasanya digunakan kayu bakau, terutama pada tanah lunak. Metode ini sebagai perkuatan yang termurah. Sistem ini lebih sesuai untuk tanah yang selalu basah atau muka air selalu dipermukaan, misal pada proyek didaerah pantai.  Jenis kayu bakau setempat yang kuat dan bulat diameter sekitar  5 sampai 10 cm dengan panjang 2 samapi 5 meter. Pemancangan tiang cerucuk secara manual 
biasanya.

Menggunakan Tiang Pancang
Tiang pancang adalah beton prategang yang digunakan untuk pondasi dalam, tiang pancang sangat efektif digunakan pada tanah jenis tanah yang lunak.  

Metode Perbaikan Tanah Dengan Geosintetik
Metode perbaikan dengan cara ini adalah metode perbaikan tanah dengan menggunakan material buatan berupa polymer sintesis jenis-jenisnya adalah sebagai berikut :
  1. Geotekstil
  2. Geomembrane
  3. Geogrid
  4. Geonet
  5. Geomat
  6. Geosynthetic Clay Liner Atau GCL
  7. Geopipe
  8. Geocomposit dan
  9. Geocell

Perbaikan Tanah [SOIL IMPROVEMENT]

Dalam suatu kasus, ada suatu proyek pembuatan jalan raya. Sebelum melakukan pekerjaan perkerasan, yang paling awal adalah mengkaji kapasitas dukung tanah atau biasa disebut CBR (California Bearing ratio). Setelah dikaji, diketahui bahwa CBR tanahnya adalah
Perbaikan Tanah [SOIL IMPROVEMENT]
Perbaikan Tanah [SOIL IMPROVEMENT]

Perbaikan Tanah [SOIL IMPROVEMENT]
Tanah yang bermasalah :
  1. Tanah lunak
  2. Tanah dispertif
  3. Tanah ekspansif
  4. Pasir dan kerikil longgar/tidak padat
  5. Tanah Lunak

Secara visual dapat ditembus dengan ibu jari minimum sedalam 2,5 cm atau bila diukur kuat gesernya.

Lempung lunak, mengandung banyak mineral lempung dan memiliki kadar air yang tinggi( >60% bahkan =100%). Biasanya tanah ini terdapat di daerah rawa dan Gambut, tanah yang pembentuk utamanya terdiri dari sisa-sisa tumbuhan.

Karakteristik tanah lempung lunak (kohesif) :
Daya dukung relatif rendah
Pemampatan relatif besar dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama–>disebabkan pori tanah terisi oleh banyak air problem bangunan di atas lempung lunak :
  1. Beban bangunan yang mampu dipikul tanah dasar relatif terbatas.
  2. Bangunan akan mengalami penurunan yang relatif besar dan berlangsung relatif lama.
  3. Bangunan sekitar lokasi pembangunaan akan mengalami gangguan.

Tanah Ekspansif
Tanah yang mengandung mineral lempung monmorilonit . Ciri-cirinya adalah mengembang bila kadar air naik dan menyusut ketika kadar airnya turun.

Tanah Ekspansif adalah tanah yang mengalami perubahan volume akibat perubahan kadar air dalam tanah. Biasanya tanah ekspansif mengandung mineral-mineral lempung seperti smektit dan montmorilonit yang mampu menyerap air. Ketika mineral tersebut menyerap air maka volume tanah akan meningkat. Semakin banyak air yang terserap, semakin bertambah volume tanah. Perubahan volume ini dapat merusak kekuatan struktur bangunan yang menempati tanah tersebut.

Tanah Dispesif
Tanah yang antara butiran yang satu dengan yang lainnya mudah memisahkan diri. Cirinya adalah tidak terkohesi meskipun dalam keadaan basah, mudah terosi. Sehingga tanah ini sangat berbahaya bila berbentuk lereng-lereng. Tanah ini yaitu jenis lanau.

Kepekaan atau ketahanan tanah terhadap erosi berbeda-beda  sesuai dengan sifat fisik dan kimia tanah. Perbedaan ketahanan ini umumnya dinyatakan dalam nilai erodibilitas tanah. Semakin tinggi nilai erodibilitas tanah, semakin mudah tanah tersebut tererosi. Secara umum tanah dengan debu yang tinggi, liat yang rendah dan kandungan bahan organik sedikit mempunyai kepekaan erosi yang tinggi. Nilai erodibilitas suatu tanah ditentukan oleh ketahanan tanah terhadap daya rusak dari luar dan kemampuan tanah menyerap air (infiltrasi dan perkolasi).  Ketahanan   tanah   menentukan   mudah    tidaknya   massa  tanah

Pasir dan Kerikil longgar/tidak padat
Cirinya adalah memiliki kepadatan yang rendah, pori-pori besar sehingga kompresibilitas tinggi, kekuatan rendah (karena bidang kontakA butiran kecil).

Teknik Perbaikan Tanah
Secara mekanis (fisis). Perbaikan dilakukan dengan cara pemadatan, mencampur tanah dengan bahan granuler (butir kasar) sedangkan Dengan Bahan kimia (secara kimiawi) Mencampur tanah dengan semen, kapur, aspal, abu terbang(fly ash), abu sekam padi. Bahan ini dapat memperbaiki daya dukung tanah karena mempunyai unsur silika, kalsium yang mana dapat menyebabkan terjadi peristiwa agromelasi (butiran menjadi lebih besar)
Dengan bahan perkuatan

Menggunakan cerucuk kayu, tikar bambu, tiang kayu, beton pracetak, geosintetik.

PERBAIKAN TANAH LUNAK

Sudah sejak setahun yang lalu saya berniat untuk menulis tentang hal ini diblog saya, tepatnya setelah mengikuti pelatihan dari MBT tentang perbaikan tanah lunak, karena kseibukan maka selalu terlewatkan. Membaca salah satu pertanyaan pada blog saya tentang perbaikan tanah lunak tehadap settlement, maka saya bermaksud menjawab pertanyaan tersebut sekalian menjelaskan permasalahan tanah lunak lainnya, kalau kata pepatah “sekali merengkuh dayung maka dua tiga pulau terlewati”.
PERBAIKAN TANAH LUNAK
PERBAIKAN TANAH LUNAK


Berikut saya kutipkan pertanyaan dari saudara Datyo.
“Salam kenal pak Badar, Saat ini saya akan melakukan perbaikan tanah urugan 2,5 km dari tepi pantai Gresik. Sehingga lokasinya ada di laut. sisi selatan dermaga, sisi barat dan utara adalah laut. Kami akan memasang storage tank dengan beban 20,000 ton. Karena ada di laut maka penurunan tanah sangat tinggi, Untuk tangki yang ada disebelah lokasi kami sudah mengalami penurunan 5-10 cm, padahal baru diurug 3 bulan yang lalu. Melihat ini kami akan menggunakan Vertikal drain untuk mempercepat pemadatan, akan tetapi ternyata biayanya sangat mahal. Apakah ada cara lain untuk melakukan pemadatan selain dengan cara prefabricated vertical drain ini pak.. tujuannya sih untuk ngirit biaya… Terima kasih….”
Umumnya jenis tanah yang mengalami konsolidasi berlebihan adalah lempung lunak jenuh. Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan guna perbaikan tanah lunak terhadap penurunan yang berlebihan (settlemen) dan secara garis besar dapat dikelompokan dalam tiga kategori : pertama dapat dilakukan dengan memasang vertical drain, kedua dengan menggunakan cerucuk atau corduroy serta yang ketiga dengan menggunakan pondasi tiang.

Pertama memasang vertical drain, tanah lempung lunak jenuh adalah tanah dengan rongga kapiler yang sangat kecil sehingga proses konsolidasi saat tanah dibebani memerlukan waktu cukup lama, sehingga untuk mengeluarkan air dari tanah secara cepat adalah dengan mebuat vertical drain pada radius tertentu sehingga air yang terkandung dalam tanah akan termobilisasi keluar melalui vertical drain yang telah terpasang. Vertical drain ini dapat berupa stone column atau menggunakan material fabricated yang diproduk oleh geosinindo atau pabrik yang lainnya. Pekerjaan vertical drain ini biasanya dikombinasikan dengan pekerjaan pre-load berupa timbunan tanah, dengan maksud memberikan beban pada tanah sehingga air yang terkandung dalam tanah bisa termobilisasi dengan lebih cepat.

Kedua dengan menggunakan cerucuk bamboo atau corduroy, prinsip kerjanya sebelum dilakukan penimbunan terlebih dahulu memasang bantalan baik yang terbuat dari bamboo (cerucuk) atau dari kayu gelondongan (corduroy) sehingga saat tanah dihampar tidak bercampur dengan tanah asli dibawahnya dan tanah timbunan tersebut membentuk satu kesatuan yang mengapung diatas tanah aslinya semacam pontoon yang mengapung diatas air. Terdapat pondasi cerucuk bamboo yang telah dimodifikasi dan dipatentkan oleh Pak Mansyur Irsyam (dosen ITB) yang telah diaplikasikan pada bebepara daerah diindonesia serta telah terbukti mamfaatnya.

Ketiga dengan menggunakan taing pancang, bisa berupa bore pile atau PC spun pile, sehingga struktur yang akan kita bangun diatas tanah tersebut tidak lagi menumpuh pada tanah lunak tersebut akan tetap menumpu pada lapisan tanah keras dibawahnya. Satu hal yang perlu diperhatikan saat merencanakan pondasi tiang pancang pada tanah lunak adalah negative skin friction.

Dua metode perbaikan tanah lunak yang saya sebutkan pertama cocok diaplikasikan pada pekerjaan jalan, yard penumpukan barang pada dermaga dll. Sementara untuk untuk pondasi dari struktur atau proses equipment yang tepat diguanakan adalah menggunakan pondasi tiang pancang.

Pile raft foundation, adalah pondasi yang sering digunakan untuk pondasi tangki pada tanah lunak. Prinsip kerjanya seperti deck on pile dimana tangki duduk pada pile cap yang ditopang oleh sejumlan pile dan saya selalu menggunakan metode seperti ini dalam merencanakan pondasi equipment dengan pertimbangan : penurunan yang diijinkan terhadap pondasi equipment sangat kecil, karena equipment ini tersambung dengan equipment proses lainnya melalui pipa baja yang cukup kaku

Ring foundation juga sering digunakan untuk pondasi tangki refer to API 650, akan tetapi pada kondisi tanah lunak tentunya sudah tidak cocok sebab apabila terjadi settlement yang tidak merata akan menyebabkan pondasi miring dan crack, dan ini merupakan awal kegagalan dari pondasi.
Ring foundation juga sering digunakan untuk pondasi tangki refer to API 650, akan tetapi pada kondisi tanah lunak tentunya sudah tidak cocok sebab apabila terjadi settlement yang tidak merata akan menyebabkan pondasi miring dan crack, dan ini merupakan awal kegagalan dari pondasi.

Metoda Perbaikan Tanah Lunak

Jenis Metode perbaikan tanah lunak yang paling umum di gunakan

a. Geotextile
Geotekstil adalah lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan geotekstil merupakan cara moderen dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak.

Beberapa fungi dari geotekstil yaitu:
Metoda Perbaikan Tanah Lunak
Metoda Perbaikan Tanah Lunak

  1. Untuk perkuatan tanah lunak.
  2. Untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai umur rencana cukup lama dan mendukung beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan tanah.
  3. Sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai lapisan pelindung.
  4. Geotextile dapat digunakan sebagai perkuatan timbunan tanah pada kasus:
  5. Timbunan tanah diatas tanah lunak
  6. Timbunan diatas pondasi tiang
  7. Timbunan diatas tanah yang rawan subsidence

Penggunaan konstruksi perkuatan pada lahan basah pertama kali dilaporkan dengan menggunakan steel mseh di bawah konstruksi timbunan pada daerah pasang surut di Perancis. Perbandingan antara timbunan di atas tanah gambut di Afrika dengan dan tanpa perkuatan dilaporkan. Dinyatakan bahwa selain woven polypropylene fabric, tegangan tarik semua jenis geotextile yang diambil contohnya dari pemasangan setahun sebelumnya berkurang antara 25% sampai 36% dari tegangan tarik awalnya, meskipun tidak berpengaruh banyak pada fungsinya.

Pelaksanaan konstruksi jalan di atas lahan basah dengan perkuatan geotextile dapat menghindarkan terjadinya keruntuhan lokal pada tanah lunak karena rendahnya daya dukung tanah. Keuntungan pemasangan geotextile pada pelaksanaan jalan di atas tanah lunak adalah kecepatan dalam pelaksanaan dan biaya yang relatif lebih murah di bandingkan dengan metoda penimbunan konvensional

Geotekstil pada jalan berfungsi sebagai lapis perkuatan sekaligus sebagai lapis pemisah (separator) antara material timbunan dengan tanah dasar sehingga konstruksi jalan menjadi stabil, tidak bergelombang dan rata pada permukaannya.

b. Vertical drain
Tanah lempung lunak jenuh adalah tanah dengan rongga kapiler yang sangat kecil sehingga proses konsolidasi saat tanah dibebani memerlukan waktu cukup lama, sehingga untuk mengeluarkan air dari tanah secara cepat adalah dengan mebuat vertical drain pada radius tertentu sehingga air yang terkandung dalam tanah akan termobilisasi keluar melalui vertical drain yang telah terpasang.

Vertical drain ini dapat berupa stone column atau menggunakan material fabricated yang diproduk oleh geosinindo atau pabrik yang lainnya. Pekerjaan vertical drain ini biasanya dikombinasikan dengan pekerjaan pre-load berupa timbunan tanah, dengan maksud memberikan beban pada tanah sehingga air yang terkandung dalam tanah bisa termobilisasi dengan lebih cepat.

c. Cerucuk bamboo atau Corduroy
Prinsip kerjanya sebelum dilakukan penimbunan terlebih dahulu memasang bantalan baik yang terbuat dari bamboo (cerucuk) atau dari kayu gelondongan (corduroy) sehingga saat tanah dihampar tidak bercampur dengan tanah asli dibawahnya dan tanah timbunan tersebut membentuk satu kesatuan yang mengapung diatas tanah aslinya semacam pontoon yang mengapung diatas air. Terdapat pondasi cerucuk bamboo yang telah dimodifikasi dan dipatentkan oleh Pak Mansyur Irsyam (dosen ITB) yang telah diaplikasikan pada bebepara daerah diindonesia serta telah terbukti mamfaatnya.

d. Tiang pancang
Bisa berupa bore pile atau PC spun pile, sehingga struktur yang akan kita bangun diatas tanah tersebut tidak lagi menumpuh pada tanah lunak tersebut akan tetap menumpu pada lapisan tanah keras dibawahnya. Satu hal yang perlu diperhatikan saat merencanakan pondasi tiang pancang pada tanah lunak adalah negative skin friction.

Setiap metode perbaikan tanah pasti ada keuntungan dan kerugian dari masing masing metode, untuk penerapan metode tersebut tergantung kondisi tanah dari hasil laboratorium. hasil laboratorium akan menunjukkan jenis tanahnya , sehinnga kita bias memilh metode yang akan di terapkan dengan mempertimbangkan bebeapa aspek seperti: aspek ekonmi, lingkungan dan jenis konstruksi yang akan di bangun. 

Cara Menghitung Produktivitas Dari Sebuah Hydraulic Excavator

1. Production per cycle (q)

      q = q1 × K
                   where q1: Bucket capacity (heaped) (m3; yd3)
                              K : Bucket fill factor
Dunia pertambangan sangat erat sekali ketergantungannya dengan alat berat. Kegiatan utama dalam dunia pertambangan adalah gali-muat-angkut dimana pada kegiatan tersebut menggunakan alat berat yang memiliki spesifikasi maupun harga yang bervariasi. Maka perhitungan akan produktivitas alat merupakan modal penting dalam manajemen suatu proyek pertambangan.
Cara Menghitung Produktivita Excavators
Cara Menghitung Produktivita Excavators

Dalam perhitungan produktivitas alat berat di dunia pertambangan satuan yang umum digunakan adalahn Ton/jam atau BCM/jam, jika dihasilkan perhitungan dengan satuan yang tidak sesuai atau tidak diinginkan maka perlu dikonversi. Hal ini berkaitan dengan jumlah cadangan yang akan ditambanng, sehingga akan diketahui umur tambang.

Sebenarnya perhitungan produktivitas secara umum sama, yaitu periode waktu (perjam) dibagi dengan CT (Cycle Time), lalu dikalikan dengan kapasitas (bucket, bak,atau blade). Pada masing-masing alat berat yang berbeda-beda adalah dalam perhitungan CT. Kemudian, Faktor koreksi dan Faktor koreksi bucket/bak/blade merupakan pendekatan empiris untuk mencapai keadaan senyata mungkin, karena dalam kenyataannya excavator dengan spek kapasitas bucket 2 m3, hanya mampu menampung material loose sebesar 1,6 m3 misalnya. Catatan lagi, terdapat angka 60 atau 3600 dalam rumus perhitungan produktivitas spesifik masing-masing alat berat mengindikasikan bahwa waktu edar alat (CT) dalam satuan menit atau detik (yang akan dikonversi dengan angka 60 atau 3600 menjadi jam).


2. Cycle time (Cm)
Cycle time = Excavating time + swing time (loaded ) + dumping time + swing time (empty)
However, here we use cycle time = (standard cycle time) × (conversion factor)
The standard cycle time for each machine is determined from the following table.

Cara Menghitung Produktivitas Dari Sebuah Hydraulic Excavator

Kemudian ada bucket fill factor, jika tadi kapasitas maksimal bucket exca 1250 adalah 6.7 m3 , namun apakah setiap kali menggali material isinya selalu penuh 6.7 m3 ? Tentunya tidak, mungkin saja akan kurang dari 6.7 m3 , atau pada kondisi material tertentu bisa lebih dari 6.7 m3 , maka dari itu perlu faktor pengali sebagai nilai yang muncul akibat adanya penggalian dan pemuatan material yang tidak selalu tepat dengan kapasitas bucket, faktor pengali tersebut kemudian yang disebut dengan bucket fill factor. Contohnya pada saat proses gali dan muat, bucket exca tidak selalu memuat penuh material pada bucketnya maka nila bucket fill factor bisa bernilai 0.8, atau 80% dari kapasitas bucketnya.
Selanjutnya ada faktor koreksi, faktor koreksi ini bisa bermacam-macam hal. Misalnya kemampuan operator bisa berbeda-beda, atau konidisi medan yang berbeda-beda satu tempat dengan lainnya, maka dari faktor-faktor tersebut juga perlu diperhitungkan. Biasanya nilai faktor koreksi ini diperkirakan berdasarkan pengamatan dalam periode waktu tertentu. Atau derange berdasarkan kondisi dilapangan. Misalnya kondisi medan tempat dudukan yang bagus dan mudah untuk melalukan penggalian, nilainya bisa 0.9.


3. Job efficiency (E)
The following table gives typical job efficiency as a rough guide. To obtain the actual production figure, determine the efficiency in accordance with actual operating conditions.

PEMBUATAN TIME SCHEDULLE – KURVA S

Time Schedulle merupakan suatu bagan rencana kerja dalam perencanaan pelaksanaan pekerjaan terhadap waktu pelaksanaan , dengan adanya Time Schedulle maka bisa digambarkan kegiatan kegiatan pelaksanaan pekerjaan dengan bobot prosentase pekerjaan terhadap waktu pelaksanaan.

Dalam pembuatan Time Schedulle  saat ini sebenarnya sudah ada aplikasi yang bisa membantu mempermudah pembuatannya , bisa melalaui Microsoft Project atau Primavera, tetapi aplikasi tersebut tidak semua orang memiliki dan dalam aplikasinya kebanyakan bentuk bagan yang dimunculkan adalah diagram batang. Dan kebanyakan Time Schedulle yang diminta dalam suatu proyek harus bisa menampilkan kurva S.

Kurva S disini merupakan suatu bentuk gambaran ideal suatu proyek dikerjakan terhadap waktu yang tersedia. Melalui aplikasi tersebut diatas ( Microsoft Project / Primavera ) biasanya kesulitan untuk membentuk tampilan Kurva S tersebut. Maka dengan itu sebenarnya pembuatan Time  Schedulle bisa dibuat melalui Aplikasi Microsoft Excel. Berikut ini kami mencoba untuk membagi cara pembuatan Time Schedulle melalui Microsoft Excel dengan langkah-langkah pembuatan secara umum dan lampiran contohnya, :
PEMBUATAN TIME SCHEDULLE – KURVA S
PEMBUATAN TIME SCHEDULLE – KURVA S

Dibuat tampilan bagan dalam Excel, sebagaimana contoh ( terlampir ), yang dalam bagan tersebut mencantumkan jenis pekerjaan, harga satuan pekerjaan, pembagian waktu ( bisa mingguan / bulanan ), bobot prosentase pekerjaan, dan diagram batang rencana kerja.

Setelah harga satuan pekerjaan setiap pekerjaan diketahui, maka dibuat bobot prosentase pekerjaaan setiap pekerjaan. Dimana bobot prosentase pekerjaan  didapat dari ( Harga sat. Pek : Harga Total seluruh pek. ) x 100

Dibuat diagram batang untuk setiap pekerjaan, disesuaikan dengan rencana kerja dan waktu yang ada.

Dibuat penyebaran atau pembagian bobot prosentase setiap pekerjaan terhadap rencana diagram batang yang dibuat berdasarkan rencana waktu. ( Jumlah setiap diagram batang / mendatar = bobot prosentase pekerjaan tersebut ) Jumlahkan penyebaran bobot prosentase dalam diagram batang secara menurun berdasar setiap acuan waktu, sampai semua waktu dijumlahkan.

Jumlahkan secara kumulatif setiap penjumlahan menurun bobot prosentase, secara kumulatif terus menerus, dimana pastikan bahwa pada batas akhir waktu rencana jumlah kumulatif bobot prosentase adalah 100 %

Pilih bentuk Chart pada Excel, dan pilih tampilan chart bentuk kurva, klik dan tempelkan pada bagan yang dibuat pertama.

Supaya tampilan chart bentuk kurva bisa tampil, maka isilah data yang diminta adalah bobot prosentase kumulatif secara mendatar secara keseluruhan ( dari kumulatif pertama sampai kumulatif akhir dengan nilai 100 )

Maka disini akan sudah tampil bentuk Kurva, bilamana masih belum tampil bentuk Kurva S , maka bisa diedit melalui pembagian / penyebaran bobot prosentase dalam diagram batang, sampai didapatkan kurva yang ideal dan mencerminkan realitas rencana kerja.

Untuk mempermudah dan mempunyai gambaran bentuk Time Schedulle  ( Kurva S ) berikut kami lampirkan dan bisa anda download contoh Time Schedulle ( Kurva S ) sederhana sebagai bahan latihan, dalam bentuk Excel 2013.

PERHITUNGAN PRODUKTIFITAS ALAT BERAT BULLDOZER

Dozer merupakan traktor yang dipasangkan blade dibagian depannya. Blade berfungsi untuk mendorong, atau memotong material yang ada didepannya. Jenis pekerjaan yang biasanya menggunakan dozer atau bulldozer adalah :
1). Mengupas top soil dan pembersihan lahan dari pepohonan
2). Pembukaan jalan baru
3). Pemindahan material pada jarak pendek sampai dengan 100 m
4). Membantu mengisi material pada scraper
5) Mengisi kembali saluran
6). Membersihkan quarry

PERHITUNGAN PRODUKTIFITAS ALAT BERAT BULLDOZER

A. Blade
Ada beberapa macam jenis blade yang dipasangkan pada dozer. Pemilihan jenis balde tergantung pada jenis pekerjaan yang akan dilakukan. Jenis blade yang umum dipakai adalah straight blade (S-balde), angle blade (A-blade), universal blade (U-blade) dan cushion blade (C-blade).

Pemasangan blad mempengaruhi gerakannya yang bervariasi tergantung dari kebutuhan pekerjaan. Gerakan blade terdiri dari tilt, pitch, dan angling. Jika ujung blade bergerak secara vertical maka gerakan ini disebut tilt. Sedangkan jika sisi atas blade bergerak menjauhi atau mendekati bdan traktor maka gerakan ini disebut pitch. Angling adalah gerakan blade pada sisi samping yang menjauhi atau mendekati badan traktor.

B. Produktivitas Dozer
Produktivitas dozer sangat tergantung pada ukuran blade, ukuran traktor dan jarak tempuh.
Kapasitas BladeUntuk mencarinya dapat digunakan rumus atau table.

Rumus  V =  WHL/2 denga nilai W = 1,5 – 1,67 (m) dan  Sudut α = 30 – 330

Waktu Siklus
Pemgisian blade umumnya dilakukan pada 40-50 ft (13-17 m) pertama dari jarak tempuh. Pada saat kembali, blade dala keadaan kosong. Waktu angkut dan kembali bulldozer dapat ditentukan dari jarak dibagi kecepatan untuk setiap variable. Perhitungan waktu siklus ditentukan juga oleh suatu waktu yang konsisten (fixed time- FT) yang merupakan waktu yang dibutuhkan bulldozer untuk mempercepat dan memperlambat laju kendaraan. FT pada umumnya berkisar antara 0,10 – 0,15 menit. Waktu yang diperlukan oleh dozer untuk melakukan 1 siklus adalah :

CT = FT + HT + RT

3. Produktivitas
Perhitungan maksimum produktivitas bulldozer dapat dicari dengan menggunakan rumus dan atau kurva.

Prod = Vl x 60/CT x efisiensi

D. Ripper
Adalah alat yang menyerupai cakar (shank) yang dipasangkan dibelakang traktor. Fungsi dari alat ini adalah untuk menggemburkan tanah keras. Jumlah cakar ripper antara satu sampai lima buah. Bentuk dari shank ada 2 macam, lurus dan lengkung. Shank lurus dipakai untuk aterial yang padat dan batuan berlapis. Sedangkan shank yang lengkung dipakai untuk batuan yang retak.

Perhitungan produktivitas ripper dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain. Pertama, dengan mengukur potongan topografi dilapangan dan waktu yang dibutuhkan untuk menggemburkan tanah. Kedua, dengan mengasumsikan kecepatan rata-rata ripperr yang bekerja pada suatu area.

E. Pembersihan Lahan
Sebelum pembangunan proyek konstruksi pada suatu lahan kosong, lahan tersebut harus dibersihkan dari semak atau pepohonan. Alat yang biasa digunakan adalah crawler traktor yang dilengkapi bulldozer blade atau blade khusus untuk membersihkan lahan seperti clearing blade atau rake.

Perhitungan produktivitas pembersihan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus :
Prod (ha/jam) = (lebar cut (m) x kec (km/jam) x eff) : 10

Sedangkan produktivitas pemotongan kayu atau pepohonan (menit/acre) dihitung dengan menggunakan rumus :

Prod = H (A x B + M1 x N1 + M2 x N2 + M3 x N3 + M4 x N4 + D x F)

Dengan H = factor kekerasan kayu
A = kepadatan pohon
B = base time
M = waktu pemotongan (menit)
N = banyak pohon per acre dengan diameter tertentu
D = jumlah diameter pohon pada ukuran lebih dari 6 ft (ft)
F = waktu pemotongan pohon dengan diameter lebih dari 2 meter atau 6 ft (menit/ft)

Tabel Faktor kekerasan kayu
Kekerasan kayu (%)
H
75 – 100 % kayu keras
1,3
25 – 75% kayu keras
1,0
0 – 25 % kayu keras
0,7

Cara Menghitung Kapasitas produksi Bulldozer

Kapasitas produksi Bulldozer menurut Peraturan menteri pekerjaan umum dan perumahan rakyat republik indonesia nomor 28/PRT/M/2016 tentang pedoman analisis harga satuan pekerjaan bidang pekerjaan umum adalah sebagai berikut

 Cara Menghitung Kapasitas produksi Bulldozer

Data sesuai dengan spesifikasi teknis alat, contoh:.
Tenaga penggerak, Pw = 75 HP
Lebar pisau (blade), L = 3,175 m
Tinggi pisau, H = 1,3 m,
Kapasitas pisau, q = 5,4 m³
Kapasitas produksi/jam, untuk pengupasan: Q = ((q x Fb x Fm x Fa x60) / Ts ) m²
Kapasitas produksi/jam, untuk meratakan:Q = ((l x{n(L- L0 ) +L0 }x Fb x Fm x Fa x60) / N x n x Ts)  m²

KETERANGAN:
Q = adalah kapasitas untuk pengupasan, m² / jam
Fb = faktor pisau (blade), (umumnya mudah, diambil 1)
Fa = faktor efisiensi kerja Bulldozer,
Fm = faktor kemiringan pisau (grade), (diambil 1 utk datar, 1,2 untuk turun -15%, 0,7 untuk nanjak +15%)
Vf = kecepatan mengupas; km/jam
Vr =kecepatan mundur; km/jam
q = kapasitas pisau q = L x H2, m³,
(lebar pisau, L; tinggi pisau, H)

Q ~ (5,2 – 5,6); m³,
T1 waktu gusur = (l x 60) : Vf; menit
T2 waktu kembali = (l x 60) : Vr; menit
T3 waktu lain-lain; menit
TS adalah waktu siklus, Ts = nΣn-1 Tn ; menit
60 adalah konversi jam ke menit,
Lo adalah lebar overlap, (diambil 0,30 m); m,
l adalah jarak pengupasan, (diambil 30 m); m,
n adalah jumlah lajur lintasan, (diambil 3 lajur); lajur,
N adalah jumlah lintasan pengupasan, (diambil 1 kali); lintasan
Tabel Faktor efisiensi alat Bulldozer (FaBul)
Kondisi kerja
Koefisien kerja
Baik
0,83
Sedang
0,75
Kurang Baik
0,67
Buruk
0,58
Tabel Faktor pisau Bulldozer
Kondisi kerja
Kondisi permukaan
Faktor pisau
Mudah
Tidak keras/padat, tanah biasa, kadar air rendah, bahan timbunan
1,10 – 0,90
Sedang
Tidak terlalu keras/padat, sedikit mengandung pasir, kerikil, agregat halus
0,90 – 0,70
Agak sulit
Kadar air agak tinggi, mengandung tanah liat, berpasir, kering/keras
0,70 – 0,60
Sulit
Batu hasil ledakan, batu belah ukuran besar
0,60 – 0,40

Contoh Bentuk Laporan QC

Quality Control ( QC) merupakan dasar untuk pekerjaan dan jasa yang dilakukan oleh suatu perusahaan yang harus dipraktekkan oleh semua personel dari Organisasi dalam kegiatan sehari-hari mereka. Meningkatkan kualitas dengan bekerja secara sistematis, sesuai dengan prosedur formal, yang dirancang untuk mencegah atau menghilangkan kesalahan sebelum terjadi . 

Contoh Bentuk Laporan QC


Ini akan menjadi tanggung jawab Manajer Proyek untuk memastikan bahwa prosedur ini dilaksanakan secara konsisten dan efektif, bahwa mereka direview secara berkala untuk mencerminkan persyaratan Kontrak sepanjang lama kerja karyawan.

Lingkup kontrol termasuk pada inspeksi produk, di mana setiap produk diperiksa secara visual, dan biasanya pemeriksaan tersebut menggunakan mikroskop stereo untuk mendapatkan detail halus sebelum produk tersebut dijual ke pasar eksternal. Seseorang yang bertugas untuk mengawasi (inspektur) akan diberikan daftar dan deskripsi kecacatan-kecacatan dari produk cacat yang tidak dapat diterima (tidak dapat dirilis), contohnya seperti keretak atau kecacatan permukaan. Kualitas dari output akan beresiko mengalami kecacatan jika salah satu dari tiga aspek tersebut tidak tercukupi.


Penekanan QC terletak pada pengujian produk untuk mendapatkan produk yang cacat. Dalam pemilihan produk yang akan diuji, biasanya dilakukan pemilihan produk secara acak (menggunakan teknik sampling). Setelah menguji produk yang cacat, hal tersebut akan dilaporkan kepada manajemen pembuat keputusan apakah produk dapat dirilis atau ditolak. Hal ini dilakukan guna menjamin kualitas dan merupakan upaya untuk meningkatkan dan menstabilkan proses produksi (dan proses-proses lainnya yang terkait) untuk menghindari, atau setidaknya meminimalkan, isu-isu yang mengarah kepada kecacatan-kecacatan di tempat pertama, yaitu pabrik. Untuk pekerjaan borongan, terutama pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh instansi pemerintah, isu-isu pengendalian mutu adalah salah satu alasan utama yang menyebabkan tidak diperbaharuinya kontrak kerja. 

Hal ini telah menjadi tanggung jawab dari Manager Quality Control untuk terus memantau pelaksanaan rencana Quality Control untuk membangun dan memasukkan ke dalam sistem praktik dan prosedur yang diperlukan, dan memastikan kepatuhan terhadap Rencana Pengendalian Mutu melalui audit berkala.

Pelaksanaan Quality Control merupakan sistematis program inspeksi dan kontrol produksi untuk mencapai standar dan kualitas yang dibutuhkan untuk menghindari masalah akibat ketidakpatuhan dan hal-hal lain yang di lakukan anggota karyawan .

Tujuan dari Rencana Quality Control adalah untuk:
  1. Menjelaskan program berkualitas untuk diimplementasikan sehingga proyek tersebut dibangun sesuai dengan persyaratan kontrak dan standar industri.
  2. Menjelaskan pedoman untuk inspeksi dan dokumentasi kegiatan.
  3. Memberikan keyakinan memadai bahwa pekerjaan selesai dengan memenuhi atau melampaui persyaratan dari gambaran  dan spesifikasi dari sutau pekerjaan , dan
  4. Jelaskan bagaimana setiap perubahan yang tak terduga atau kondisi yang dapat mempengaruhi kualitas konstruksi atau kegiatan lain yang akan terdeteksi, didokumentasikan, dan ditangani selama konstruksi.


Pada praktiknya, penagwasan mutu memerlukan adanya suatu standar yang akan menjadi acuan untuk bagian Quality Control dalam melaksanakan tugasnya. Standar tersebut dikeluarkan oleh bagian Research adn Development, mulai dari bahan bahu, proses sampai barang jadi berikut penanganannya.
Tanggung jawab mutu kerja dan barang merupakan tanggung jawab semua bagian dalam perusahaan, mulai dari level top management sampai pelaksana bagian bawah. Bagian Quality Controlhanya bertugas dan bertanggung jawab terhadap pemantauan mutu, baik dari incoming material bertugas melaksanakan peng, proses, penanganan produk sebelum sampai k konsumen.

Adapun cara pembuatan rencana QC dalam sutau tabel dokumentasi di buat dengan bergai macam cara. salah satu contoh pembuatan bentuk rencana Quality Control bisa anda lihat di bawah ini:

Administrasi Proyek Bangunan Civil

Tanpa program dan pencatatan yang baik, suatu kegiatan akan kacau dan tidak selesai tepat waktu serta tidak akan terjalin koordinasi baik antarbidangnya. Di sinilah, dibutuhkan administrasi. Bila kegiatan tersebut merupakan kegiatan di bidang pembangunan sebuah proyek, yang dibutuhkan adalah administrasi proyek.

Administrasi Proyek Bangunan Civil


Administrasi proyek sangat dibutuhkan agar mempermudah segala hal berhubungan dengan suksesnya proyek yang sedang dilakukan. Misalnya, ada rencana pembangunan pabrik di sebuah daerah. Maka, pengkoordinasian berbagai pihak terkait sudah harus dilakukan sejak awal perencanaannya. Mulai administrasi proyek bangunan civil, bangunan mechanical, hingga pemasangan mesin, dan sebagainya.

Administrasi proyek bangunan civil meliputi hal-hal berikut ini.

1. Persiapan Gudang Sementara
Gudang merupakan perangkat yang sangat penting di sebuah lokasi pembangunan. Tanpa gudang yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan material, akan sulitlah proses pembangunan tersebut.

2. Kantor dan Mess Sementara
Terkadang, lokasi pembangunan jauh dari pusat kota tempat kantor pusat perusahaan berada. Pembangunan kantor sementara bertujuan untuk mempermudah koordinasi antara pimpinan proyek dengan pimpinan yang ada di kantor pusat.

Selain itu, kantor sementara akan mempermudah fungsi pengawasan dan pengendalian semua aktivitas yang ada di lokasi pembangunan. Sementara pembangunan mess sementara, diperuntukkan bagi para pekerja. Hal ini akan memperlancar penyelesaian proyek karena para pekerja sudah berada di lokasi pembangunan.

3. Mobilisasi Material dari Distributor ke Lokasi Pembangunan
Tanpa koordinasi yang baik, mobilisasi material bangunan dari distributor ke lokasi pembangunan dapat tersendat. Bila hal ini terjadi, terganggulah penyelesaian proyek pembangunan tersebut.

Setelah proses pembangunan bangunan civil selesai, tahap selanjutnya adalah pengerjaan bangunan mechanical. Administrasi bangunan mechanical meliputi pemasangan berbagai alat kelistrikan, boiler, genset, turbin, atap, internet, dan instalasi permesinan.

Administrasi Proyek Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit


  1. Berikut ini merupakan salah satu contoh administrasi pembangunan sebuah pabrik kelapa sawit. Ada beberapa jenis pabrik kelapa sawit.
  2. Pabrik kelapa sawit mini berkapasitas 15 ton/jam yang mencakup kawasan sebesar lebih kurang 1 hektar.
  3. Pabrik kelapa sawit menengah dengan kapasitas 60 ton/jam, meliputi kawasan seluas lebih kurang 3 hektar.
  4. Pabrik kelapa sawit besar dengan kapasitas diatas 60 ton/jam, meliputi kawasan seluas lebih kurang 5 hektar.
Administrasi proyek pembangunan pabrik kelapa sawitnya mencakup hal-hal berikut.

  1. Memeriksa kondisi tanah atau lahan.
  2. Pembukaan lahan untuk lokasi pembangunan pabrik.
  3. Pemancangan tiang-tiang fondasi.
  4. Pembangunan lantai.
  5. Pembangunan dudukan mesin.
  6. Pembuatan loading rame (tempat dudukan buah sawit).
  7. Installing mesin-mesin pres, mesin digester, centrifuge/decanter (alat yang memisahkan air dari kotoran-kotoran lain sehingga yang keluar hanya CPO).
  8. Pembuatan vebrating screen (pengayakan CPO sebelum masuk ke decanter).
  9. Penempatan sterilizer (rebusan).
Setelah semua pembangunan selesai, pabrik kelapa sawit bisa mulai beroperasi.

RUMUS MENGHITUNG VOLUME

A.Pembersihan site atau lokasi tanah

  Cara Menghitung Volume :                   Keterangan :  V = Volume pembersihan lahan

V  = p x L                                                                  p  = Panjang lahan
       = 15 m1 x 8,5 m1                                               L  = Lebar lahan
       = 127,5 m2
RUMUS MENGHITUNG VOLUME

B.Pengukuran dan pemasangan Bouwplank
   Cara menghitung volume untuk lokasi kosong :
     
  V = (p + 2  ) x 2 + ( 1 + 2 ) x 2
     = ( 15 m1 + 2 m1 ) x 2 + (8,5 m1 + 2 m1) x 2
     = 55 m1

Cara menghitung volume untuk lokasi yang sekelilingnya telah terbangun :

  V = (p + l ) x 2                                              Keterangan  :
     = (1,5m1 + 8,5m1) x 2                                                   V = Volume Bouwplank
     = 47 m1                                                                          p = panjang bangunan
                                                                                            l  = lebar bangunan

C. Galian tanah pondasi
 Pondasi brukuran lebar tapak 80 cm, lebar atas 30 cm,tinggi 75 cm, dan panjang 48 cm.
 Cara menghitung volume pondasi bangunan adalah sbb :

VA = (a  +  b)  x h x p
               2
      = (0,80 m + 1 m) x 0,75 m  x 48 m1
                          2
     = 32,4 m3

 Pondasi pagar berukuran lebar 70 cm, lebar atas 30 cm,tinggi 60 cm,dan panjang 38,5 cm.
   Cara menghitung volume pondasi pagar adalah sebagai berikut.

   VA= (a  +  b) x h x p
                 2
        = (0,80 m + 1m) x 0,75 m x 48 m1
                      2
        = 32,4 m3

    Pondasi pagar berukuran lebar tapak 70 cm, lebar atas 30 cm, tinggi 60 cm, dan panjang 38,5 cm.
    cara menghitung volume pondasi pagar adalah SBB :

   VB= (a + b) x h
                2
        = (0,70m + 0,9m) x 0,60m  x 38,50
                 2
        = 21,56 m3

Jumlah total galian tanah pondasi :

    VT = VA + VB
          = 32,4 m3 + 21,56 m3
          = 53,96 m3

Keterangan :
                       Vt = Volume tanah galian total
                       VA = Volume Pondasi Bangunan
                      VB = Volume Pondasi pagar
                      a    = lebar galian pondasi bagian bawah
                      b    = lebar galian pondasi bagian atas
                      h   = tinggi galian pondasi
                      p = panjang galian pondasi

D. Urugan pasir dan tanah

1)  Urugan pasir dibawah pondasi
      Cara menghitung volume urugan Pondasi

      VA = h x b x p
            = 0,05 m x 0,8 m x 48 m1
            = 1,92 m3

Cara menhgitung Volume urugan pasir dibawah pondasi pagar :

      VA = h x b x p
           = 0,05 m x 0,8 m x 38,50 m1
           = 1,54 m3

Jumlah total volume urugan pasir dibawah pondasi :

       Vt = VA + VB                                                            
            = 1,92 m3+ 1,54 m3                              
           = 3,46 m3                                                    

Cara Menghitung Progress Pekerjaan

Menghitung progress pekerjaan proyek konstruksi secara umum yaitu memperkirakan berapa nilai prosentasi pekerjaan yang sudah dilaksanakan dibanding dengan total penyelesaian secara keseluruhan, melihat dari pengertian tersebut maka kita bisa mendapatkan gambaran tentang bagaimana cara menghitungnya. untuk lebih jelasnya disini kita akan mencoba membuatkan tutorial yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan perhitungan menyesuaikan dengan kondisi proyek yang akan dihitung. sebelumnya perlu kita ketahui macam-macam fungsi progress proyek yang dapat dibaca pada artikel berikutnya disini agar lebih semangat atau setidaknya tahu alasan kuat kenapa perlu menghitung progress proyek dengan baik dan benar.

Menghitung progress pekerjaan proyek konstruksi secara umum yaitu memperkirakan berapa nilai prosentasi pekerjaan yang sudah dilaksanakan dibanding dengan total penyelesaian secara keseluruhan

Cara Menghitung Progress Pekerjaan

Progress = (Volume pekerjaan yang sudah dikerjakan : Volume total pekerjaan ) x 100%

Cara menghitung progress pekerjaan proyek
  1. Pertama kita buat rincian item pekerjaan yang ada dalam proyek, contohnya ada pemasangan pondasi batu kali, pekerjaan sloff, pekerjaan kolom struktur, pemasangan dinding batu bata dan seterusnya.
  2. Masing-masing item pekerjaan tersebut kita hitung berapa volume dan harga totalnya, data volume ini adalah nilai progress 100%.
  3. Dalam pelaksanaan pembangunan akan ada pekerjaan yang sudah dikerjakan dan ada juga yang belum, maka kita bisa hitung volume pekerjaan yang sudah dilaksanakan.
  4. Dari data volume pekerjaan yang sudah dihitung tersebut maka dapat dicari prosentase progressnya.

Contoh perhitungan progress proyek

Sebuah pekerjaan pemasangan batu kali sepanjang 99m berbentuk penampang trapesium ( ukuran tinggi = 1 m panjang sisi bawah 0,8 m panjang sisi atas 0,4 m ). sampai saat ini sudah dikerjakan sepanjang 17 m. harga satuan pekerjaan pasangan batu kali per m3 adalah Rp.500.000,-, berapa progress pekerjaan yang sudah diselesaikan? berapa total harga pekerjaan dan berapa harga pekerjaan yang sudah dikerjakan? '

mari kita hitung bersama disini
Volume total pasangan batu kali = (((0,8m + 0,4m)/2)x 1m) x 99m = 59,4 m3.
Volume pasangan batu kali yang sudah dikerjakan = (((0,8m + 0,4m)/2)x 1m) x 17m = 10,2 m3
Progress pekerjaan = (10,2m3 : 59,4m3) x 100 = 17,17 %.
Harga total pekerjaan = Rp.500.000,- x 59,4m3 = Rp.29.700.000,-
Harga pekerjaan yang sudah selesai = Rp.500.000,- x 10,2m3 =Rp.5.100.000,-

Ini merupakan contoh progress untuk satu item pekerjaan, jadi untuk satu proyek secara keseluruhan perlu dihitung satu perrsatu setiap item pekerjaan sehingga dapat diketahui total nilai progress secara keseluruhan.

Demikian contoh perhitungan progress pekerjaan proyek konstruksi ini, selanjutnya bisa disesuaikan dengan kondisi dan situasi proyek masing-masing. semoga bermanfaat.