TUGAS SUPERVISION ENGINEER (SE) PADA KONSTRUKSI BANGUNAN

 Pelaksanaan Konstruksi proyek baik di proyek Pemerintah atau swasta perlu adanya struktur organisasi proyek. Struktur organisasi proyek yang telah dibuat pada saat pekerjaan proyek, mencerminkan tugas dan tanggung jawab masing-masing dari personil yang terlibat dalam pekerjaan proyek. Baik yang dibuat oleh Pemilik/Owner, Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Supervisi.  

Pelaksanaan proyek di lingkungan Pemerintah yang dalam kegiatan pelaksanaan proyek konsultan pengawas (Supervisi) dilibatkan, maka sebelum mobilisasi personil, Konsultan Pengawas ( Supervisi ) menyerahkan daftar personil serta struktur organisasi Konsultan Pengawas ( Supervis i) ke Pemilik/Owner.

Site Engineering (SE) akan berkedudukan di tempat berdekatan dengan lokasi pekerjaan fisik yang menjadi tanggung jawabnya. Site Engineering  (SE) bertanggung jawab atas seluruh aktifitas pekerjaan kontraktor baik pengendalian kegiatan yang berhubungan dengan aspek teknik, administrasi dan keuangan baik berupa design, pengukuran volume bahan dan pekerjaan sebagai dasar perhitungan pembayaran prestasi pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor berdasarkan ketentuan dan persyaratan yang telah ditentukan dalam dokumen kontrak.

Tugas dan tanggung jawab utama dari Supervision Engineer Konstruksi Bangunan adalah sebagai  berikut :
TUGAS SUPERVISION ENGINEER (SE)
  • Mengikuti petunjuk-petunjuk dan persyaratan yang telah ditentukan terutama sehubungan dengan :
    • Inspeksi secara teratur ke paket-paket pekerjaan Konstruksi Bangunan untuk melakukan monitoring kondisi pekerjaan dan melakukan perbaikan - perbaikan agar pekerjaan dapat direalisasikan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang telah ditentukan.
    • Pengertian yang benar tentang spesifikasi Konstruksi Bangunan .
    • Metode pelaksanaan Konstruksi Bangunan untuk setiap jenis pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.
    • Metode pengukuran volume pekerjaan yang benar sesuai dengan pasal-pasal dalam dokumen kontrak  Konstruksi Bangunan  tentang cara-cara pengukuran dan pembayaran.
    • Rincian teknis sehubungan dengan “ Change-Order “ Konstruksi Bangunan  yang diperlukan.
  • Membuat penyataan menerima (“ Acceptance “) atau penolakan (“ Rejection “) atas material dan Produk Pekerjaan Konstruksi Bangunan .
  • Melakukan pemantauan dengan ketat atas prestasi Pelaksana kegiatan Konstruksi Bangunan . Segera melaporkan kepada Pemimpin Kegiatan Fisik Konstruksi Bangunan  apabila kemajuan pekerjaan ternyata mengalami kelambatan dari rencana membuat saran-saran penanggulangan serta perbaikan.
  • Melakukan Pengecekan secara cermat semua pengukuran pekerjaan dan secara khusus harus ikut serta dalam proses pengukuran akhir pekerjaan Konstruksi Bangunan .
  • Menyusun Laporan Bulanan Konstruksi Bangunan tentang kemajuan Fisik dan Financial, serta menyerahkan kepada Pemimpin Kegiatan Fisik.
  • Menyusun Justifikasi Teknis gambar Konstruksi Bangunan dan perhitungan sehubungan dengan usulan perubahan kontrak Konstruksi Bangunan .
  • Mengecek dan menanda tangani Dokumen Pembayaran Bulanan Konstruksi Bangunan  (Monthly Certificate )
  • Mengecek dan menanda tangani Dokumen tentang Pengendalian mutu Konstruksi Bangunan  dan Volume Pekerjaan Konstruksi Bangunan .

LINGKUP PEKERJAAN PENGAWASAN KONSTRUKSI BANGUNAN

Pekerjaan  pengawasan konstruksi bangunan yang dilakukan oleh Konsultan Supervisi secara umum adalah untuk melaksanakan tertib administrasi baik secara administrasi kegiatan, (fisik dan keuangan), pengendalian mutu pelaksanaan konstruksi bangunan sesuai dengan spesifikasi teknis yanga telah disyaratkan dan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan Dalam Dokumen Kontrak konstruksi bangunan
PEKERJAAN PENGAWASAN BANGUNAN
Jenis Jasa Konsultan Supervisi konstruksi bangunan yang dikerjakan merupakan layanan jasa pekerjaan Pengawasan/Supervisi. Pada dasarnya layanan jasa ini membantu Kegiatan Fisik (Engineer Representative) dalam pengendalian pelaksanaan pekerjaan agar tercapai sasaran kegiatan fisik sebagaimana yang telah disyaratkan dalam Dokumen Kontrak.
Lingkup Pekerjaan  konstruksi bangunan yang harus dilakukan oleh Konsultan Supervisi sesuai dengan tahapannya adalah sebagai berikut :
1)  Pengawasan Umum Konstruksi Bangunan
a.  Konsultan konstruksi bangunan akan melaksanakan semua pekerjaan jasa pengawasan yang diperlukan untuk membantu PPK dalam menyelenggarakan kegiatan pelaksanaan.
b. Konsultan Pengawas konstruksi bangunan berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengawasi pelaksanaan kegiatan baik dalam bidang teknis maupun administrasi dan membantu Pemberi Tugas/ Pemimpin Kegiatan dalam menyelesaikan masalah yang timbul selama pelaksanaan kegiatan baik yang diminta maupun tidak, berdasarkan pertimbangan dan analisa yang obyektif terhadap setiap tuntutan yang mungkin diajukan oleh kontraktor.
c.  Konsultan Pengawas konstruksi bangunan berkewajiban untuk mengorganisir, mengelola dan melaksanakan pengawasan teknis sehingga memuaskan Pemberi Tugas dan bermaksud mengelola kontrak ini berdasarkan saling percaya dan menghargai yang umum terjadi antara Pemberi Tugas dan Konsultan.
d. Konsultan konstruksi bangunan akan memahami semua dokumen-dokumen yang telah disusun oleh Pemberi Tugas dan atas nama Pemberi Tugas memberikan instruksi-instruksi yang perlu kepada Kontraktor, melakukan pemeriksaan serta memberikan petunjuk-petunjuk terhadap pelaksanaan pekerjaan untuk menjamin agar pelaksanaan benar-benar dikerjakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari dokumen kontrak.
e.   Konsultan Pengawas akan tanggap akan perencanaan teknis, sehingga dalam pelasanaan proyek dapat mengajukan pelaksanaan teknis baru atau re-design apabila diperlukan yang mempunyai kuantitas sama atau lebih dari rencana semula namun memberikan keuntungan baik dari segi keuangan maupun teknis.
f.  Konsultan dapat setiap saat memberi instruksi tertulis kepada kontraktor yang menurut pendapatnya adalah cara yang lebih efisien dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Setiap instruksi tertulis atau persetujuan tertulis yang diberikan Pimpinan Proyek atau Konsultan kepada kontraktor akan mengikat kontraktor sepanjang memenuhi ketentuan dalam kontrak.
g. Konsultan tidak mempunyai kekuasaan untuk membebaskan Kontraktor dari segala kewajiban-kewajiban atau tanggung jawab yang tercantum dalam kontrak.
2)  Pengawasan Teknis Konstruksi Bangunan
·      Memeriksa data survey yang akan digunakan.
·      Menyediakan titik data survey untuk kontraktor.
·      Memberikan rekomendasi bagi Pemberi Tugas didalam tahapan kegiatan pelaksanaan.
·      Membantu Pemberi Tugas dalam memeriksa dan memecahkan masalah yang mungkin akan muncul, untuk mencegah klaim dari kontraktor.
·     Memeriksa dan menyetujui daftar material peralatan dan personil yang akan didatangkan, fasilitas Base Camp dan lokasi penempatan peralatan.
·      Mengecek dan memeriksa cara penghitungan kuantitas dan prosedur pemeriksaan mutu (Quality Control).
·      Mengecek pemasangan patok garis tengah jalan dan damija (ROW).
·      Mengecek dan menyetujui segi keamanan dari pengaturan lalu-lintas didalam proyek.
·  Mengecek dan menyetujui jumlah kuantitas dan mutu material yang disediakan oleh kontraktor.
b.  Masa Konstruksi Konstruksi Bangunan
·     Menyelenggarakan pengawasan secara terus menerus di lapangan untuk mendapatkan kepastian bahwa semua pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan persyaratan didalam dokumen kontrak konstruksi bangunan.
·     Menjaga dan memperbaharui secara berkala daftar tenaga kerja dan peralatan kontraktor dengan dasar daftar yang sudah disetujui oleh Pemberi Tugas saat pengajuan penawaran.
·  Mengawasi dan mengevaluasi semua instalasi, rumah, laboratrium, klinik, gudang, peralatan dan barang-barang lain agar sesuai dengan acuan dan kondisi dari dokumen kontrak.
·    Memeriksa dan menyetujui semua gambar kerja dan detail yang diajukan, agar sesuai dengan kebutuhan teknis.
·      Memberikan laporan secara tetap terhadap semua pengukuran kuantitas pekerjaan yang sudah ditest termasuk penggunaan material, dengan menggunakan bentuk yang sudah disetujui oleh Pemberi Tugas konstruksi bangunan.
·      Memberikan laporan mingguan atau kalau diperlukan jika ada masalah yang timbul dan memberikan rekomendasi pemecahan masalah konstruksi bangunan.
·      Mempersiapkan semua perubahan (change order) dan membantu Pemberi Tugas pada saat negosiasi harga dan biaya konstruksi setiap ada perubahan.
·     Mengevaluasi dan membuat rekomendasi bagi Pemberi Tugas untuk bertindak atas klaim terhadap kontrak, perselisihan, penambahan lingkup pekerjaan kontrak dan perubahan-perubahan lain diluar lingkup pekerjaan yang tercantum dalam dokumen kontrak.
·      Melakukan sertifikasi terhadap rancangan pembayaran bulanan yang diajukan kontraktor untuk mendapatkan persetujuan Pemimpin Kegiatan, termasuk perkiraan biaya akhir untuk konstruksi dan pengawasan.
·      Menyediakan bantuan dan arahan pada saat yang tepat bagi kontraktor di dalam semua masalah yang ada hubungannya dengan dokumen kontrak, pengecekan terhadap survey tanah dasar, test pengawasan mutu dan masalah lain yang berhubungan dengan dipenuhinya kontrak dan kemajuan pekerjaan konstruksi bangunan.
·    Menjamin penerimaan material dan peralatan yang digunakan di lokasi sesuai dengan syarat-syarat dalam dokumen kontrak. Semua material yang digunakan di lokasi termasuk sumbernya juga harus disetujui terlebih dahulu.
·   Menyediakan informasi yang diperlukan oleh Pemberi tugas, menghadiri dan mencatat semua hasil rapat/pertemuan dengan kontraktor, Pemilik Kegiatan dan Instasi Pemerintah lain serta menyediakan bantuan teknis bila dan kapan diperlukan dalam kaitannya dengan pelaksanaan kegiatan dan masalah-masalah kontrak.
· Mencatat kondisi cuaca harian, kondisi diluar normal di lapangan, yang bisa mengakibatkan keterlambatan dan langkah-langkah yang diambil untuk mencegah keterlambatan tersebut.
·      Membuat laporan bulanan, laporan teknis dan laporan akhir kegiatan seperti dikehendaki oleh Pemberi tugas konstruksi bangunan.
·      Melakukan pemeriksaan terhadap Serah Terima Sementara termasuk penyiapan laporan dan Berita Acara Serah Terima Sementara yang diperlukan dan menerbitkan Sertifikasi Penerimaan Sementara (Certificate of Provicional Acceptence).
· Memeriksa dan menyetujui gambar terbangun (As Built Drawing) konstruksi bangunan yang disiapkan oleh kontraktor.

·   Melakukan pemeriksaan terhadap Serah Terima Akhir konstruksi bangunan termasuk penyiapan laporan dan Berita Acara Serah Terima Akhir yang diperlukan dan menerbitkan Sertifikasi Penerimaan Akhir (Certifikate of Provicional Acceptence).

KESALAHAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI BANGUNAN

Kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi bangunan struktur juga seringkali terjadi, hal ini bisa disebabkan oleh metoda pelaksanaan yang tidak benar, contohnya : 
KESALAHAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI BANGUNAN

Kesalahan umum dalam pekerjaan konstruksi bangunan tanah  :
1. Galian Tebing Longsor, karena :
  • a. Cara penggalian yang salah;
  • b. Curah Hujan Terlalu tinggi;
  • c. Limpasan air tidak mencukupi;
2. Penimbunan Badan Jalan :
  • a. Material Timbunan tidak sesuai dengan spesifikasi;
  • b. Cara Kompaksi yang salah.
Kesalahan umum pada pekerjaan konstruksi bangunan jalan :
1. Material sub base dan base, mutu konstruksi bangunan permukaan (wearing surface) tidak sesuai dengan rencana campuran (JMF) yang ditentukan, mungkin disebabkan oleh kecerobohan dalam pelaksanaan, baik dalam pemasakan, kadar aspal, campuran maupun kualitas agregat. Material sub base dan base tidak sesuai dengan spesifikasi;

2. Setting Out yang tidak tepat, mengakibatkan panjang jalan menjadi tidak sesuai, hal ini disebabkan oleh :
  • a. Peralatan pengukuran yang kurang tepat;
  • b. Ketidaktelitian pada saat setting out;
  • c. Tidak ada kontrol kedua atau ketiga;
Kesalahan umum konstruksi bangunan pada penyelesaian akhir :
1Jalan pendekat amblas disebabkan oleh :
  • a. Bahan timbunan tidak menggunakan bahan material pilihan;
  • b. Pemadatan yang tidak sempurna;
  • c. Tinggi lapisan yang dipadatkan tidak sesuai dengan jenis alat pemadat yang digunakan;
2. Mutu konstruksi bangunan perkerasan baik aspal ataupun beton retak, kropos disebabkan oleh :
  • a. Mutu beton tidak sesuai dengan persyaratan;
  • b. Campuran material pengecoran salah;
  • c. Kadar aspal tidak memenuhi syarat;
  • d. Curing tidak sesuai prosedur;
  • e. Akibat kesalahan pada pelaksanaan beton :
Segregasi, adalah pemisahan agregat kasar dari pasta semen. Penyebab segresi adalah :
a. Slump yang terlalu rendah;
b. Gradasi yang kurang memadai;
c. Berat jenis agregat kasar terlalu tinggi dibandingkan dengan agregat halus;
d. Jumlah agregat halus terlalu sedikit;
e. Tinggi jatuh pengecoran terlalu tinggi;
f. Penggunaan alat penggetar yang terlalu lama;
g. Penggunaan bahan admixture yang salah;
Bentuk lain dari segregasi dimana agregat kasar turun ke ke bawah karena ketidakmampuan mengikat air dari adukan mortar, sehingga air keluar ke atas permukaan, penyebabnya adalah :
a. Campuran beton terlalu basah;
b. Temperatur terlalu tinggi pada saat pengecoran;
c. Rancangan campuran beton (desaign mix) kurang baik;
d. Adanya penambahan air pada saat pengecoran berlangsung;
3. Retak
4. Kropos

RAPAT PERSIAPAN PEKERJAAN (PCM) KONSTRUKSI BANGUNAN

PCM (PRE CONSTRUCTION MEETING ) Konstruksi Bangunan diselenggarakan oleh 3 unsur-unsur yang terkait : Direksi Pekerjaan sebagai unsur pengendalian, Direksi Teknis sebagai pengawas teknis , Penyedia Jasa sebagai pelaksana pekerjaan.
RAPAT PERSIAPAN PEKERJAAN  (PCM) KONSTRUKSI BANGUNAN

PCM (PRE CONSTRUCTION MEETING ) Konstruksi Bangunan Merupakan tahapan awal tindakan pengendalian Untuk Menyatukan pengertian, membuat kesepakatan dan membahas kemungkinan-kemungkinan kendala yang akan terjadi dan Petunjuk penyusunan kerangka kerja.

Beberapa hal yang perlu dibahas dan disepakati dalam PCM adalah:
  • Struktur Organisasi kerja.
  • Tata cara pengaturan pelaksanaan pekerjaan termasuk pengajuan gambar kerja Konstruksi Bangunan (shop drawing) dan ijin kerja Konstruksi Bangunan (Request).
  • Revisi dan penyempurnaan terhadap Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Bangunan (dalam bentuk S-Curve dan/atau Critical Path Method (CPM) termasuk metode kerja) yang harus sesuai dengan target volume,waktu dan mutu.
  • Jadual pengadaan bahan, mobilisasi peralatan, dan personil serta penggunaan peralatan Konstruksi Bangunan.
  • Masalah – masalah lapangan terkait dengan Ruang Milik Jalan, Lokasi Quarry, Lokasi Base Camp .
  • Menyusun rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan (mutual check) Konstruksi Bangunan dan revisi (bila ada) terhadap Detailed Engineering Design (DED) Konstruksi Bangunan.
  • Pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat mengenai rencana kerja Konstruksi Bangunan, (misalnya: pengkaitan antara rencana kerja dengan musim tanam atau masalah jalan masuk ke quarry/angkutan bahan).
  • Penyusunan Program Mutu Kegiatan Konstruksi Bangunan yang terdiri dari Rencana Mutu Kontrak (RMK) dan Rencana Mutu Pelaksa Gegiatan Proyek (RMP).
  • Prosedur pengujian material olahan dan hasil pekerjaan Konstruksi Bangunan.
  • Rencana Pengaturan Lalu lintas (Manajemen Lalu Lintas) Konstruksi Bangunan selama pelaksanaan konstruksi, meliputi pemasangan rambu sementara, pengaturan jalan sementara/ detour (jika ada), antrean lalu lintas bergiliran, pembatasan kecepatan, dll.
  • Prosedur Pengukuran pekerjaan Konstruksi Bangunan dan Pembayaran termasuk data pendukungnya.
  • Rencana Pelaporan Konstruksi Bangunan , Komunikasi dan Korespodensi.
Materi yang dibahas dalam PCM:
 Aplikasi pasal-pasal penting dalam Dokumen Kontrak Konstruksi Bangunan.
  • Organisasi Kerja
  • Mobilisasi
  • Manajemen dan keselamatan lalu-lintas (Traffic Management and Safety)
  • Perubahan Kegiatan Pekerjaan 
  • Perubahan Kuantitas dan Harga 
  • Penghentian dan Pemutusan Kontrak
  • Sub Penyedia Jasa (Subletting)
  • Asuransi
  • Kompensasi
Prosedur administrasi penyelenggaraan pekerjaan Konstruksi Bangunan, antara lain:
  • Review dan penyempurnaan terhadap jadual kerja yang harus sesuai dengan target volume, waktu dan mutu
  • Jadwal pengadaan bahan Konstruksi Bangunan, penggunaan peralatan dan personil
  • Gambar kerja dan kelengkapannya
  • Pengajuan (request) Konstruksi Bangunan dan persetujuan (approval) dalam rangka pemeriksaan lapangan bersama (examination of works)
  • Menyusun rencana dan pelaksanaan Konstruksi Bangunan pemeriksaan lapangan bersama (mutual check), sehubungan dengan perencanaan teknis (DED) yang ada.
  • Tata cara pengajuan Pembayaran Bulanan (Monthly Certificates/MC)
  • Perpanjangan periode pelaksanaan
  • Pembuatan Amandemen Kontrak
  • Serah Terima Sementara (Provisional Hand Over) dan Serah Terima Akhir (Final Hand Over).
Tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan Konstruksi Bangunan, antara lain:
  • Pelaksanaan Perkerasan Jalan Konstruksi Bangunan pada segmen jalan berikut Pengaturan lalu-lintasnya,
  • Pelaksanaan stabilisasi tanah Konstruksi Bangunan,
  • Pelaksanaan produksi agregat Konstruksi Bangunan untuk pondasi jalan dan perkerasan aspalnya.
  • Menentukan lokasi sumber material (quarry) Konstruksi Bangunan , estimate kuantitas bahan beserta rencana pemeriksaan mutu bahan yang digunakan.
  • Pendekatan terhadap masyarakat daerah dan sosialisasi Kegiatan.
  • Prosedur pengujian material/bahan dan hasil pekerjaan Konstruksi Bangunan.
  • Kendala-kendala yang mungkin terjadi selama periode kontrak.
  • Prosedur pengukuran dan pembayarannya.
  • Hubungan dengan institusi lain (Pemda, Laboratorium, dll).
  • Kemungkinan adanya perubahan program mobilisasi Konstruksi Bangunan dan schedule pelaksanaan yang  sudah disepakati pada penanda tanganan kontrak antar Direksi Pekerjaan (sebagai wakil Pemilik) dan Penyedia Jasa (sebagai Pelaksana Pekerjaan).

JENIS ASPAL PADA KONSTRUKSI BANGUNAN JALAN

Bitumen sering diartikan sebagai aspal, sebenarnya tidak demikian karena Tar juga mengandung bitumen. Selanjutnya hanya dibahas Aspal sebagai bahan bitumen konstruksi bangunan jalan   . Semua aspal diperoleh dari destilasi minyak mentah bumi (crude oil) baik secara mekanik mapun secara alami. Modul ini hanya membahas aspal sebagai bahan lapis pondasi, akan tetapi tidak membahas perkerasan campuran aspal (panas) karena substansi ini telah dimasukkan ke dalam modul lain.

Aspal Keras konstruksi bangunan jalan 

Aspal keras konstruksi bangunan jalan   adalah aspal yang dalam temperatur kamar berbentuk padat dan keras. Aspal  jenis ini dirancang dengan memilih penetrasi, kekerasan yang sesuai untuk pelaksanaan, iklim dan jenis lalu lintas, dari suatu perkerasan. Penetrasi adalah masuknya jarum standar dengan beban 100 gram (termasuk berat jarum), dalam temperatur 25 °C selama 5 detik. Contoh : Pen.40/50; Pen.60/70. Semakin rendah nilai penetrasinya semakin keras aspalnya.

Aspal minyak  konstruksi bangunan jalan diperoleh dari penyulingan minyak mentah bumi dengan peng-uapan dan destilasi dalam berbagai tahap kondensasi. Aspal keras berbeda dengan aspal cair dimana aspal keras harus dipanaskan untuk mencapai kondisi mencair sedangkan aspal cair sudah dalam kondisi cair pada temperatur kamar sehingga diperlukan bahan pelarut untuk aspal cair.

Aspal Cair konstruksi bangunan jalan 

Terdapat 3 jenis aspal cair yaitu :
  • Aspal Cair Penguapan Lambat (Slow Curing Liquid Asphalt)
Aspal cair jenis konstruksi bangunan jalan  ini dapat berupa residu yang mengandung sedikit minyak berat atau campuran antara aspal keras dengan minyak residu. Untuk mencapai kelecakan (workability) yang lebih baik maka aspal jenis ini harus dipanaskan dan umumnya digunakan untuk campuran dingin.  Contoh : SC-800.
  • Aspal Cair Penguapan Sedang (Medium Curing Liquid Asphalt)
Aspal cair jenis konstruksi bangunan jalan  ini diperoleh dengan mencairkan aspal keras dengan minyak tanah. Aspal jenis ini sudah berbentuk cair dalam temperatur kamar dan umumnya digunakan untuk prime coat. Contoh : MC-250
  • Aspal Cair Penguapan Cepat (Rapid Curing Liquid Asphalt)
Aspal cair konstruksi bangunan jalan jenis ini diperoleh dengan mencairkan aspal keras dengan bensin. Karena penguapan bensin jauh lebih cepat dari minyak tanah maka aspal cair ini dikenal dengan nama aspal cair penguapan cepat. Umumnya digunakan untuk tack coat. Contoh : RC-70.Angka yang lebih tinggi menunjukkan aspal cair yang lebih kental, misalnya RC-250 lebih kental dari RC-70, angka ini menunjukkan syarat viskositas kenematik minimum dari aspal cair tersebut.
 Aspal Emulsi konstruksi bangunan jalan 

Jika air dicampur dengan minyak maka keduanya akan memisah. Agar ter- campur dalam suspensi maka diperlukan bahan ketiga seperti sabun yang ditambahakan untuk memperlambat pemisahan. Dalam hal yang sama, aspal keras konstruksi bangunan jalan dan air dicampur dengan menggunakan bahan pengemulsi untuk memperlambat pemisahan. Terdapat banyak bahan pengemulsi baik organik maupun inorganik seperti lempung koloidal, silika yang dapat maupun yang tidak dapat dilarutkan, sabun, minyak sayur sulfonat konstruksi bangunan jalan .

Jika aspal emulsi breaks up atau sets up, maka air mengalir atau menguap meninggalkan aspal. Penanganan aspal emulsi konstruksi bangunan jalan  harus diperhatikan khusus agar reaksi dini akibat tekanan, panas atau dingin yang berlebihan, tidak terjadi. Kecepatan reaksi sangat ditentukan oleh jumlah dan jenis bahan pengemulsi yang digunakan. Jika aspal emulsi breaks up maka warna aspal yang semula coklat berubah menjadi hitam.
Aspal emulsi menurut muatan listrik bahan pengemulsinya terdiri dari :
Aspal Emulsi Kationik

Aspal emulsi jenis kationik (ion positif) cocok untuk jenis batuan yang mengandung ion negatif. Meskipun demikian, aspal kationaik dapat digunakan untuk semua jenis batu.

Aspal Emulsi Anionik

Aspal emulsi jenis anionik (ion negatif) cocok untuk jenis batu yang mengandung ion positif.
Aspal emulsi menurut kecepatan reaksinya terdiri dari :

  1. Reaksi Cepat (Rapid Setting)
  2. Memerlukan beberapa menit untuk breaks up. Contoh : RS
  3. Reaksi Sedang (Medium Setting)
  4. Memerlukan puluhan menit untuk breaks up. Contoh : MS
  5. Reaksi Lambat (Slow Setting)
  6. Memerlukan waktu berjam-jam untuk breaks up. Contoh : SS

Secara umum aspal emulsi lebih menguntungkan dari aspal cair karena :
a.         Dapat beradaptasi untuk agregat basah
b.         Mengurangi bahaya kebakaran dan bahaya keracunan.

MIX DESIGN LAPIS PONDASI KONSTRUKSI BANGUNAN JALAN

MIX DESIGN LAPIS PONDASI AGREGAT

Pada Konstruksi Bangunan Jalan Tidak ada hal yang khusus untuk Lapis Pondasi Agregat Kelas A atau B. Selama gradasi dan sifat-sifat (properties) material memenuhi syarat maka target CBR  pasti tercapai.

Langkah-langkah berikut merupakan uraian singkat pembuatan mix design untuk Lapis Pondasi Konstruksi Bangunan Agregat kelas A atau B :
  • Memeriksa semua sifat-sifat material apakah sudah memenuhi syarat
  • Mengatur proporsi masing-masing agregat Konstruksi Bangunan agar memenuhi amplop gradasi yang disyaratkan.
  • Karena amplop untuk Lapis Pondasi Konstruksi Bangunan Agregat Kelas A atau B cukup lebar maka terbuka kemungkinan untuk mencari proporsi yang paling ekonomis meskipun gradasi yang diperoleh tidak tepat di tengah-tengah amplop.
  • Kepadatan Berat (Modified Proctor) Konstruksi Bangunan yang digunakan dalam pembuatan benda uji perlu diperhatikan bahwa ukuran butir maksimum adalah ¾”  atau 19 mm maka semua material lolos ayakan 2” dan tertahan ayakan ¾” diganti dengan material lolos ayakan ¾” dan tertahan No.4 dengan jumlah yang sama.
  • Dari hasil pengujian kepadatan Konstruksi Bangunan  berat akan diperoleh Kepadatan Kering Maksi-mum (Maximum Dry Dendity) dan Kadar Air Optimum (Optimum Moisture Content).
  • Buat benda uji dengan MDD dan OMC yang diperoleh di atas untuk pengujian CBR, umumnya diambil harga CBR pada penetrasi 0,1”. Bilamana harga CBR pada penetrasi 0,2” lebih besar dari harga CBR pada penetrasi 0,1” maka percobaan harus diulangi. Bilamana percobaan ulang menghasilkan harga CBR pada penetrasi 0,2” yang tetap lebih tinggi dari harga CBR  pada penetrasi 0,1” maka harga CBR pada penetrasi 0,2” yang diambil.
MIX DESIGN LAPIS PONDASI TANAH-SEMEN (SOIL-CEMENT BASE)

Langkah-langkah berikut merupakan uraian singkat pembuatan mix design Lapis Pondasi Konstruksi Bangunan Tanah-semen :
  • Memeriksa semua sifat-sifat material apakah sudah memenuhi syarat
  • Membuat benda uji dengan Kepadatan Ringan (Standard Proctor)Konstruksi Bangunan , minimum 4 kadar semen portland yang berbeda. Plot hasil pengujian dalam Grafik I dengan sumbu x : Kadar Air Optimum dan sumbu y : Kepadatan Kering Maksimum. Dari hasil grafik I dapat diperoleh MDD dan OMC untuk masing-masing kadar semen portland yang berbeda.
  • Buatlah  hubungan MDD & OMC dengan kadar semen dalam Grafik II dengan sumbu x : Kadar Semen dan sumb y kiri : Kepadatan Kering Maksimum Konstruksi Bangunan dan sumbu y kanan : Kadar Air Optimum.
  • Buatlah benda uji (berdiameter 76,1 mm dan tinggi 14,2 mm) untuk pengujian Unconfined Compressive Strength (UCS) berumur 7 hari (dengan perawatan) untuk minimum 4 variasi kadar semen portland yang berbeda dengan meng-gunakan MDD dan OMC yang diperoleh dari Grafik II. Plot hasil pengujian kedalam Grafik III dengan sumbu x : Kadar Semen dan sumbu y : UCS.
  • Dari Grafik III akan diperoleh kadar semen portland minimum Konstruksi Bangunan untuk mencapai : UBS minimum; UCS target dan UCS maksimum. Pilih kadar semen portland minimum yang memenuhi UCS target. Plot kadar semen portland minimum yang diperoleh dalam Grafik IV yang sama dengan Grafik II untuk menentukan MDD dan OMC dalam pelaksanaan.
  • Jika tidak tersedia alat untuk pengujian UCS maka dapat digunakan cara CBR Konstruksi Bangunan dengan perawatan (curing) selama 3 hari dan perendaman selama 4 hari. Umumnya diambil harga CBR pada penetrasi 0,1”. Bilamana harga CBR pada penetrasi 0,2” lebih besar dari harga CBR pada penetrasi 0,1” maka percobaan harus diulangi. Bilamana percobaan ulang menghasilkan harga CBR pada penetrasi 0,2” yang tetap lebih tinggi dari harga CBR  pada penetrasi 0,1” maka harga CBR pada penetrasi 0,2” yang diambil.

KESALAHAN PENGUJIAN KONSTRUKSI BANGUNAN PROYEK JALAN

Kesalahan Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang umum terjadi saat pengujian meliputi :Kesalahan Peralatan Laboratorium karena tidak dikalibrasi,  Kesalahan Faktor Manusia, misalnya salah baca, dsb,Kesalahan Prosedur Pengujian karena “Cara Melakukan” yang benar belum dipahami.

Beberapa penyimpangan Prosedur Pengujian Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang sering dijumpai di lapangan :

Penyiapan Benda Uji dengan Gradasi Yang Bervariasi

Seringkali dilakukan pencampuran agregat dalam jumlah yang besar sebelum dipanaskan dengan proporsi yang sudah benar, akan tetapi pencampuran ini belum tentu memberikan keseragaman tiap benda uji. Ibarat memasak nasi goreng dalam jumlah yang besar, setelah dituang ke masing-masing piring, belum tentu komponen daging dan telur tersebut terdistribusi merata.

Setiap benda uji Konstruksi Bangunan Proyek Jalan harus mempunyai gradasi yang sama. Setelah pencampuran agregat dalam jumlah besar sebelum dipanaskan dengan proporsi yang benar selesai dikerjakan, maka agregat ini dikelompokkan lagi dalam berbagai fraksi sehingga segregasi dapat dihindarkan.

Contoh : 1” s/d ¾”; ¾” s/d ⅜”; ⅜” s/d No.4; No.4 s/d No.8; No.8 s/d debu

Seringkali rancangan campuran (mix design) Konstruksi Bangunan Proyek Jalan diubah, tetapi sisa material yang sudah dikelompokkan dalam beberapa fraksi ini masih cukup banyak dan digunakan untuk membuat benda uji dengan mix design baru. Meskipun material ini telah dikelompokkan dalam beberapa fraksi yang hampir single size, namun sebenarnya material ini berasal dari proporsi mix design Konstruksi Bangunan Proyek Jalan lama. 

Penggunaan Piknometer yang Salah 

Piknometer yang seharusnya digunakan untuk mencari berat jenis (specific gravity) agregat halus, berkapasitas 500 ml. Tetapi seringkali piknometer berkapasitas lebih besar atau lebih kecil digunakan untuk pengujian dengan alasan piknometer berkapasitas 500 ml pecah.

Bilamana digunakan pikno-meter yang lebih kecil maka benda uji Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang dimasukkan menjadi terbatas dan tidak dapat mewakili material yang akan diuji. Bilamana digunakan piknometer yang lebih besar maka leher piknometer juga besar sehingga kepekaan pem-bacaan tinggi muka air dalam piknometer menjadi berkurang.

Dengan demikian hasil pengujian Konstruksi Bangunan Proyek Jalan dengan kondisi sebagaimana disebutkan di atas seringkali memberikan nilai yang salah. Sebagai contoh, dari sumber (quarry) yang sama, agregat berbutir besar (kasar) mempunyai penyerapan yang lebih tinggi dari agregat berbutir halus (sampai debu). 

Kering Permukaan Jenuh yang Salah

Agregat Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang telah direndam akan diangkat dan kondisi Kering Permukaan Jenuh (Saturated Surface Dry) akan dibuat dengan membiarkan kelebihan air mengalir dan permukaan agregat di-lap dengan handuk. Permukaan agregat yang terlalu kering atau terlalu basah juga akan memberikan nilai Berat Jenis dan Penyerapan yang salah. 

 Abrasi Semu

Suatu agregat Konstruksi Bangunan Proyek Jalan setelah diuji dengan 500 putaran mesin Los Angeles meme-nuhi syarat, tetapi nilai ini semu karena sebenarnya agreagat terdiri dari campuran 2 jenis material meskipun berasal dari sumber (quarry) yang sama. Sebut saja yang agak keras bewarna abu-abu, sedangkan yang agak lunak bewarna merah. Setelah 100 putaran, sebenarnya agregat bewarna merah sudah habis terabrasi sehingga sisa 400 putaran berikutnya hanya meng-abrasi agregat bewarna abu-abu.

Dalam AASHTO T96-87 disebutkan bahwa untuk mengetahui homogenitas agregat maka perlu dilakukan pengujian abrasi sampai 100 putaran sebelum total 500 putaran. Nilai Abrasi pada 100 putaran harus 20% Nilai Abrasi 500 putaran. Namun ketentuan ini tidak terdapat dalam Manual Pemeriksaan Bahan Jalan. Disarankan agar selalu merujuk pada AASHTO meskipun Manual Pemeriksaan Bahan Jalan atau SNI dalam bahasa Indonesia lebih mudah dipahami. Bagaimanapun juga standar-standar nasional merupakan hasil adopsi dari standar-standar asing seperti AASHTO, ASTM dsb.

 Indeks Plastisitas yang Salah

Indeks Platisitas = Batas Cair – Batas Plastis.
Dalam pengujian Batas Cair diperlukan alat pengetuk dengan landasan karet keras (hard rubber), bilamana landasan tersebut bukan terbuat dari karet keras maka akan diperoleh hasil pengujian  Konstruksi Bangunan Proyek Jalan yang berbeda. 

Dalam pengujian Batas Platis benda uji dipilin-pilin dengan telapak tangan sampai mencapai diameter 3 mm, bilamana diameter tersebut tidak diukur dengan jangka sorong maka akan diperoleh hasil pengujian yang berbeda.

Yang terpenting lagi adalah material yang digunakan dalam pengujian ini harus lolos ayakan No.40. Seringkali material yang diangggap agregat halus tidak diayak terlebih dahulu dengan ayakan no.40 sehingga diperoleh hasil pengujian Konstruksi Bangunan Proyek Jalan  yang salah (Indeks Plastisitasnya lebih rendah dari yang sebenar-nya).

Stabilitas Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan

Hal-hal yang mempengaruhi kinerja Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan adalah stabilitas keseluruhan timbunan, stabilitas internal, penurunan, material dan pelaksanaannya.
Stabilitas Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan
  • Timbunan batu Proyek Konstruksi Bangunan, yaitu timbunan dimana material seluruhnya atau sebagaian timbunan mengandung 25 persen atau lebih volume kerikil atau batu yang berukuran lebih dari 4 inci.
Baca Juga: CHECKLIST PENGAWASAN PEKERJAAN KONSTRUKSI BANGUNAN PASANGAN BATU
  • Timbunan jalan pendekat jembatan Proyek Konstruksi Bangunan, yaitu timbunan dekat jembatan dan dilanjutkan 35 m dibelakang ujung struktur dengan elevasi subgrade selebar penuh timbunan, ditambah akses ramp dengan tanjakan 10 horizontal : 1 vertikal. Timbunan pendekat jembatan juga termasuk timbunan yang diganti pondasinya dgn yang baik ddekat jembatan.
  • Timbunan tanah Proyek Konstruksi Bangunan, yaitu timbunan yang tidak digolongkan pada timbunan batu atau jalan pendekat jembatan tetapi dibuat di atas tanah.
  • Timbunan ringan terdiri dari material recycle yang merupakan bagian terbesar volume timbunan dan timbunan dibuat dengan persyaratan khusus.
  • Timbunan baru Proyek Konstruksi Bangunan, sebagai konstruksi akan menambah beban terhadap tanah di bawahnya dan menyebabkan tanah menurun. 
Total penurunan mempunyai tiga komponen potensial yaitu :
1. Penurunan langsung
2. Penurunan konsolidasi
3. Secondary compression (pemampatan kedua).
Penurunan Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan dapat diperkirakan untuk semua timbunan. Meskipun timbunan mempunyai faktor stabilitas keseluruhan, kinerja timbunan jalan raya dapat menurun disebabkan pengaruh penurunan differensial yang berlebihan pada permukaan jalannya.


Analisis penurunan Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan di atas tanah lunak memerlukan parameter indeks kompresi. Parameter ini biasanya didapat dari pengujian standar cone dimention oedometer untuk tanah bergradasi halus. Untuk tanah granular, parameter ini dapat diperkirakan secara empiris.

Karena konsolidasi utama dan kompresi kedua dapat terus berlanjut setelah timbunan dibuat (penurunan post kontruksi), maka hal ini menjadi perhatian didalam disain dan pelaksanaannya. Apabila konsolidasi utama diizinkan terjadi sebelum penempatan utilitas atau struktur bangunan yang dapat berpengaruh pada penurunan, maka pengaruh ini harus diminitor. 


Namun demikian penurunan Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan dapat terjadi dalam seminggu sampai setahun, sampai penurunan utama selesai, sedangkan secondary compression tanah organik dapat berlanjut sampai satu dekade. Parameter kunci untuk mengevaluasi besarnya penurunan di bawah timbunan membutuhkan pengetahuan antara lain
  • Profil bawah permukaan tanah termasuk jenis tanah, lapisannya, tinggi muka air tanah dan berat isi;
  • Indeks kompresi untuk kompresi utama, rebound dan secondary compression dari data pengujian laboratorium, korelasi dari sifat indeks, dan hasil monitoring program penurunan yang telah selesai untuk lokasi yang berdekatan dengan kondisi tanah yang sama.;
  • Bentuk geometris timbunan yang direncanakan, termasuk berat isi material timbunan dan beban timbunan jangka panjang.


Profil tanah biasanya dibagi dalam beberapa lapisan untuk analisis, yang setiap lapisan menandakan perubahan sifat tanah. Sebagai tambahan, lapisan yang tebal dengan sifat yang sama, dibagi untuk analisa perhitungan penurunan yang lebih teliti, didasarkan atas kondisi tegangan pada titik tengah lapisan (biasanya cocok untuk evaluasi dekat perkerasan, untuk tebal lapisan 7 meter dibagi dua, sedang tebal lapisan 3,5 diambil satu). total Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan merupakan jumlah dari setiap lapisan kompresibel. 

Bila tegangan prekonsolidasi suatu lapisan yang dievaluasi lebih besar dari tegangan efektif awal, penurunan Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan akan mengikuti kurva rebound compression bukan kurva virgin compression (yang dinyatakan dalam Cc). Tekanan preconsolidasi yang berlebihan dari tekanan efektif vertikal saat ini, terjadi pada tanah yang mengalami overkonsolidasi, seperti pada pembebanan glacial, preloading atau desication.



Untuk tanah organik dan mempunyai plastisitas tinggi harus mempertimbangkan komponen secondary settlement. Perlu dicatat bahwa secondary compression umumnya tergantung pada bentuk tegangan dan secara teori merupakan fungsi hanya dari indeks secondary compression dan waktu Timbunan Tanah Proyek Konstruksi Bangunan